Kegiatan pagi yang menjemukan. Langit menggelayut mendung di ujung selatan, rintik gerimis menyapu wajah ku yang masih terasa ngantuk diubun-ubun. Ternyata aroma kopi pagi dan legitnya pisang goreng tak juga menghapus jejak kantuk sisa semalam.
Tiba di stasiun UI, deretan penumpang mengular antri membeli tiket. Hmm.. tapi tunggu, antrian ini sepertinya tidak biasa. Lepas dari loket tiket, pemandangan stasiun UI yang biasanya tidak terlalu ramai kini seperti pasar tumpah.
Riuh rendah suara sekelompok orang mendominasi. Tukang jualan lalu lalang menjajakan barang dagangannya. SI penjaga toko roti di samping loket telihat kewalahan melayani penumpang yang tampak lapar dan garang.
Keluhan pun bukan jadi hal yang baru. Dan tiba-tiba saja penumpang satu sama lain jadi ‘akrab’ hanya karena ‘ngegosip’ soal kondisi perkeretaapian Indonesia dan buruknya system yang ada. Meskipun tidak sedikit juga yang tenggelam dalam dunia maya di layar sentuhnya.
Kereta tiba tepat pukul 08.25. Meskipun termasuk KRL Commuter Line namun padatnya mengalahkan kereta ekonomi menuju Jakarta Kota yang sudah berangkat 5 menit sebelumnya. Tak ada pilihan. Akupun loncat dan memasuki kereta yang tampak seperti kaleng sarden berukuran persegi panjang.
Sesak? Sudah pasti. Tidak nyaman? Ah, sejak kapan naik kereta berdiri dan penuh itu bisa dibilang nyaman. Posisi berdiri yang tidak tegak sempurna membuatku makin tak nyaman. Tak terhitung berapa kali perut dan dada ku terkena siku orang-orang disebelahku. Mau teriak atau marah? Silakan saja kalau ingin diamuk penumpang lainnya. Dan aku harus pasrah dan ikhlas di dalam kereta.
Ini benar-benar potret kehidupan Jakarta sebenarnya. Kalau banyak orang berbondong-bondong datang ke Jakarta karena gemerlapnya Ibu Kota, aku malah merindukan suasana kedamaian Tulungrejo yang kutinggalkan sebulan lalu. Ya, aku merindu!
Sampai di stasiun Karet, peluh sudah bercucuran. AC kereta sepertinya tidak membawa banyak manfaat. Mencari kursi adalah hal pertama yang aku lakukan saat keluar. Lelah? Sangat! Lemas? Bagaimana tidak, kalau selama di dalam kereta peluh terus saja bercucuran seperti keran air yang bocor.
Sambil menunggu, kusempatkan membuka telepon selularku. Nama pertama yang terlintas di benakku adalah Tresable Hutasoit. Lho? Kenapa Mba Abel ya?
Iseng kutelusuri ‘jejaknya’ di tempat ia biasa mencurahkan isi hati. Ada kerinduan menelusup di ruang hatiku. Rindu yang membuncah dan mendorong bulir air mataku mengalir tak terbendung. Cengeng betul pikirku.
Entah mengapa, tapi aku memang merindukannya. Seperti merindukan seorang kakak yang lama sekali tak pernah bertemu. Dan tanpa ragu, ku ketikkan pesan singkat di BBM nya. Dan Alhamdulillah dirinya baik-baik saja. Terima kasih Tuhan J
Stasiun Karet 14 Maret 2012