Tag-Archive for » my life «

May
02

Gegap gempita Gedung Kesenian Jakarta membuat dinginnya hujan malam itu sedikit terhangatkan. Kerlap kerlip baju merah yang wara wiri di hampir sebagian besar GKJ menambah hangat suasana. Saat Babah Daniel masuk ke dalam ruangan dan berkelakar, saya sontak berteriak “Apeeeuuuuu….”. Tak disangka, ada satu suara lain berteriak hal yang sama di sisi balkon. Mata kami bertemu dan senyum lebar menghiasi wajah tirusnya.

Itulah kali pertama saya bertemu dengannya, pertengahan 2010 silam. Astri Apriyani namanya, atau yang kerap disapa Atre. Tidak tahu persisnya kapan kami menjadi sahabat. Tapi yang pasti, kejadian di GKJ malam itu mengawali perkenalan kami.

Etra n Atre after Sepuluh Show, GKJ 2011

Etra n Atre after Sepuluh Show, GKJ 2011

Obrolan kian hangat saat mengetahui kalau kami satu arah tujuan pulang, Pasar Minggu-Depok. Obrolan pun kami lanjutkan sampai di taksi. Singkat cerita kami bertukar telepon dan facebook malam itu.

Sampai pada akhirnya, saya mengetahui kalau­­ Atre adalah salah satu petualang ACI2010. Telepon sore itu menanyakan perihal letak kantor Detikcom, kantor di mana saya masih bernaung masa itu. Obrolan singkat di telepon membawa saya dan Atre ke pertemuan selanjutnya. Kalau kami bilang sih, ngopi-ngopi cantik! Hehe..

Selama masa petualangan, saya dan Atre selalu berbagi cerita. Baik lewat sms, FB, ataupun watsap (waktu itu kami belum saling follow twitter). Program ACI2010 telah selesai, namun pertemanan kami justru kian membara. (duh! Bahasanya euy..)

Apalagi latar belakang pekerjaan kami yang memang sama. Kuli tinta. Kekompakan kami tidak hanya di dunia maya, tapi juga saat berburu berita. Tidak jarang kami membuat janji temu di sela-sela waktu wawancara. Meskipun rubrik yang dipegangnya tidaklah sama dengan saya.

Betina, Bulan Film Nasional 2011, TIM

Betina, Bulan Film Nasional 2011, TIM

Kadang saya dengan senang hati ‘diculik’ untuk menemani liputan musik, teater, ataupun film. Berlagak jadi fotografer, partner reporter yang setia pun dilakukan. Hehe.. Dan tidak jarang pula ia saya culik ke liputan kuliner yang saya hadiri. Lagi-lagi, dia sebagai fotografer partner saya. Istilah kerennya sih, kami ini ‘Partner in Crime’. Hahaha…

Atre, Arne, Etra. Backstage GKJ, Sepuluh Show, 2011

Atre, Arne, Etra. Backstage GKJ, Sepuluh Show, 2011

Sampai suatu ketika, kami berdua ingin menonton pertunjukkan KunoKini di Rollingstone. Sore menjelang sebelum pertunjukkan, kami mendapati senja cantik diujung jalan. Teriak histeris kami lakukan. “Huaaaa… senjanya kereeeeennnnn!” lagi-lagi derai tawa terburai seketika.

“Jadi kamu suka senja?” ujarnya kala itu.

“Bangeeettt!” timpal saya menanggapi. “Huaaa.. kita samaaa!” jeritnya.

Senja seperti ‘benang merah’ untuk kami berdua. Kemana saja Atre bepergian, ia tak pernah lupa mengirimkan senja untuk saya. Begitupula sebaliknya, kemana pun saya pergi ketika saya mendapati senja cantik di luar sana tak pernah saya lupa untuk berkirim dengannya. Bisa dibilang, senja jadi oleh-oleh paling berharga saat bepergian. Hehehe

Dan purnama adalah hal lainnya yang kami bagi sambil menyesap kopi hangat dan seporsi matcha toast favorit kami.

Hehe, aneh memang! Kalau banyak orang bilang “gw deket banget sama dia karena kita udah kenal lama,” itu gak berlaku antara hubungan saya dengan Atre. Kami saling mengenal, berbagi cerita suka, berbagi tawa ceria, serta berbagi air mata begitu saja.

Kedekatan kami bukan karena waktu, tapi lebih karena kami melengkapi satu sama lain. Meskipun saya tidak bisa pungkiri, kesibukan kami membatasi waktu temu yang belum tentu satu bulan sekali. Tapi saya yakin, kami saling mendoakan satu sama lain. Atre dengan tempat barunya, dan saya dengan kesibukan baru yang jauh berbeda dari biasanya. Dan senja, memang jadi pengikat pada akhirnya. Ya, karena kami Sahabat Senja.

O ya, satu hal lagi. Ternyata Atre itu sahabat Nelli masa kuliah. Klop deh! Jadilah kami ini tri mbak getir! Ahahaha…. Atre, Etra, Arne (itu julukan kami).

TriMbakGetir (Arne, Etra, Atre), #DM22

TriMbakGetir (Arne, Etra, Atre), #DM22

Jan
25

Tubuhnya kecil, menggigil dibalik tabung kaca berukuran tak lebih besar dari peti jeruk. Puluhan kabel terpasang menjuntai di sekujur tubuhunya demi membantunya untuk dapat terus bertahan hidup. Terkadang terlihat tubuhnya menggeliat sesekali. Entah karena memang seperti itu atau itu adalah rasa sakit reaksi ketidaknyamanannya. Entahlah! more…

Category: ceritaku  Tags: ,  8 Comments