Sebelum saya bercerita, jika kamu mengharapkan ini adalah cerita religi penuh dengan nilai-nilai kebaikan manusia sebaiknya urungkan niatmu untuk membaca tulisan ini lebih jauh. Saya ngga mau ada kekecewaan setelahnya. #tsaaah #Lokatenolakcowo
Malam ini adalah malam pertama saya mengikuti tarawih berjamaah. Saya tidak tarawih di Mesjid bersama dengan sebagian besar orang yang ada di kampung ini. Saya memilih tarawih menemani Mbun (panggilan akrab ibu saya) di mushola kecil yang letaknya persis di belakang rumah.
Alasannya, kaki Mbun sakit dan saya lebih suka menemani beliau di sini. Selain itu, mushola di sini jamaahnya adalah wanita semua, jadi lebih tenang. Tidak banyak yang bercanda. Tapi tidak ada pemandangan bagus sesudahnya. #eaaa #salahfokus
Lanjut lagi. Tadi saya sudah bilang kalau jamaah di sini wanita semua kan? Oke..oke..Hehe.. Jangan bayangkan wanita-wanita muda yang ada di sini. Wanita termuda itu ya saya (bukan sok muda, tapi itu memang kenyataannya). Jumlah jamaahnya mungkin sekitar 30 orang (dihari pertama tentu saja yang kian menyusut tiap harinya). Dan kebanyakan dari mereka adalah lansia dan ibu-ibu paruh baya. Alasan mereka sederhana, karena sudah tidak bisa berjalan jauh, makanya sholat tarawih di mushola ini diadakan. Mayoritas yang datang semua saya panggil uwak atau nenek. Hihihi.. *udah kebayang berapa usia mereka kan?*
Yang menarik adalah, sebelum sholat dimulai biasanya mereka akan saling sapa dan menceritakan perihal puasa mereka seharian. Atau kejadian-kejadian seputar masak memasak sahur dan persiapan menu berbuka yang kalau dipikir-pikir tidak pernah berubah tiap tahunnya.
Kisah-kisah menarik lainnya yang selalu mereka ceritakan adalah kondisi kesehatan. Keluhan-keluhan seputar asam urat, rematik, dan juga pengapuran itu sudah jadi hal yang lumrah terlontar dari bibir keriput yang termakan usia.
Kadang saya suka terkikik geli dengan celoteh mereka yang sering ‘heboh’ sendiri dan yang pasti konyol-konyol.Tapi sekaligus sedih melihat kondisi mereka saat ini, apalagi saya yang sudah kenal sejak kecil. Dan jamaah ini pun berkurang tiap tahunnya karena ada saja satu diantara mereka yang berpulang. :’)
Saya salut sekaligus iri dengan semangat mereka. Meskipun sudah sepuh dan ada keterbatasan kesehatan yang membuat mereka sulit bergerak dengan cepat, tapi mereka masih punya satu semangat untuk beribadah di bulan Ramadhan. Saya jadi malu sendiri. Kadang saya memilih untuk tidur-tiduran atau mantengin layar sentuh ketimbang tarawih. Alasannya karena terlalu capek di kantor.
Padahal kalau memang niat, semuanya itu jadi mungkin. Ah..mudah-mudahan saja semua itu berubah di tahun ini. Amiin..
Tetiba saya jadi penasaran. Bagaimana dengan ‘rumpian’ menjelang tarawih pada jamaah pria ya? Ada yang bisa share?
Masih di Kandang Beruang, 22.23

