Tag-Archive for » Hidup «

Aug
07

Rasa haru kadang datang bukan karena duka, bukan juga bahagia, namun merayap karena memori yang terbuka. Haru yang menelusup kadang menyesakkan, namun kadang juga menyenangkan. Membuncah membuyarkan lamunan dan membentuk serangkaian pemikiran.

Seperti sore ini, rasa haru ini begitu kurang ajar! Ia datang tetiba, membuat mata ini buram karena tak kuasa membendung bulir air mata yang terasa hangat membelai pipi. Haru  yang campur aduk rasanya, membuat senyum tersungging sempurna disela air mata yang masih saja merembas seenaknya.

In a while, in a word,

Every moment now returns.

For a while, seen or heard,

How each memory softly burns.

Facing you who brings me new tomorrows,

I thank God for yesterdays,

How they led me to this very hour,

How they led me to this place...”

Sepenggal lagu ‘Two Words’ milik Lea Salonga mengalun, menguntai nada indah, menemani saya menikmati indahnya langit sore yang cerah. Membawa kenangan manis setahun lalu mampir kembali sore ini.

Di sebuah Gereja di pinggiran kota, seorang pria tampan berjas hitam berdiri dengan gagahnya berjalan menuju altar. Sikap tenangnya tidak juga menutupi rasa gugup yang menggayut halus di wajahnya. Hari ini adalah hari yang paling dinantinya setelah 8 tahun perjalanan yang berlalu tidak tanpa suka dan duka.

Perjalanan panjang untuk dapat meminang gadis manis berbalut gaun putih panjang yang kini tengah menggamit lengan kanan si pria dengan lembutnya sambil sesekali tersipu malu.
“Ah betapa cantiknya ia. Tak pernah kulihat ia begitu cantik memesona seperti hari ini,” mungkin itu yang ada di dalam pikirannya saat berjalan bersisian dengannya. Ada rona bangga dan rasa lega yang tersirat saat seluruh mata tertuju kepada mereka dan mengantarkan pasangan berbahagia itu dalam jutaan doa menuju altar pemberkatan. Sorot mata bahagia menghilangkan ragu, menyapu gelisah yang sejak pagi iseng menggoda.

Every touch, every smile,

You have given me in care.

Keep in heart, always I’ll,

Now be treasuring everywhere.

And if life should come to just one question,

Do I hold this moment true?

No trace of sadness, A

lways with gladness…

‘I DO…’

Janji manis nan sakral di hadapan Tuhan serta Pastur yang mengikat hubungan mereka membuat semua yang hadir merasakan getaran haru yang begitu syahdu. Sebuah simbol pengikat melingkar di masing-masing jari manis mereka yang dipasang dengan penuh cinta.

"I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you"

"I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you"

Now a song that speaks of now and ever,

Beckons me to someone new,

Unexpected, unexplored, unseen,

Filled with promise coming through.”

Kini, tak ada lagi yang menghalangi jalan cinta yang mereka jalin. Janji sehidup semati di hadapan Tuhan membawa mereka menjadi manusia yang baru. Menjadikan mereka satu dalam doa setiap hati yang hadir kala itu.

You and I forever change,

Love so clear, never blurred,

Has me feeling wondrous, strange,

And if life should come to just one question,

Do I face each moment true?

No trace of sadness, always with gladness, ‘I DO…’

Never with sadness…

Always with gladness… ‘I…DO….’ “


Kemarin, masih ada ‘aku dan kamu’ tapi kini semua berubah menjadi ‘kita’.  Dan ini bukan lah akhir dari cerita cinta yang telah diperjuangkan selama delapan tahun, namun menjadi sebuah awal yang baru menjalani sebuah kehidupan yang dinamakan ‘bahtera rumah tangga’. Semoga perahu yang berlayar ini selalu dijalani dengan penuh suka cita dan cerita bahagia meski badai pasti akan terus menggoda.

Denting piano yang mengiringi Lea Salonga tuntas membawa keharuan yang begitu menggebu di hati saya. Hanya sepenggal doa untuk mereka - pasangan yang berbahagia yang tersenyum saat melangkah keluar dari Gereja – sahabat saya tercinta, Lesti & Iwan. Semoga bahagia tak pernah sungkan mampir di rumah tangga kalian.Kini dan nanti.

With love,

the happiest sister :’)

(thank you for allowing me write the happiest moment of you,dear)

My warmest place, 07082012

Aug
03


Foto milik mbah Google :)

Foto milik mbah Google :)

Kehidupan jaman sekarang dengan segala tuntutan yang cukup tinggi memang menyita banyak waktu. Khususnya mereka yang tinggal di Ibukota, tak terkecuali saya. Segala sesuatunya berjalan sangat cepat dan tiba-tiba sudah berganti hari tanpa kita sadari.

Saya jadi berpikir, kadang kita perlu memperlambat diri barang sejenak saja. Bukan memanjakan rasa malas, tapi lebih kepada memberikan tubuh ini sedikit jeda untuk bernafas dan berinteraksi dengan alam.

Diam, dan biarkan mata ini menyapu keadaan lingkungan sekitar. Dan bersyukur atas apa yang ada, sehingga kita tahu betul bahwa semua yang ada di dunia ini begitu indah. Ajaib dan menakjubkan. Bahkan semut berbaris pun jadi satu irama manis yang akan mengisi rongga hati yang sudah terlampau kaku dengan budaya metropolitan.

Yuk, berhenti sejenak.. melambatkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih berisi dan matang :)

Kopaja, Ampera Raya 08.22

Jul
22

Tulisan ini bukan kisah Ibu Kita Kartini, bukan juga cerita Cut Njak Dien. Apalagi cerita Marsinah, buruh  yang mati 19 tahun lalu dan sempat menggemparkan dunia karena kisah tragisnya. Bukan, bukan itu semua. Ini semua murni pemikiran saya yang risau dengan beberapa pemikiran orang beberapa tahun terakhir.

Tetiba saya teringat obrolan dengan beberapa teman. Ini soal kehidupan percintaan saya, yang belakangan memang cukup drama. Hehe..

Gak perlu jadi srikandi juga kan? :D

Gak perlu jadi srikandi juga kan? :D

“Lo itu terlalu mandiri sih, Lan!” itu komentar seorang teman beberapa tahun lalu menanggapi cerita saya. “Mbok ya jadi cewe jangan terlalu pinter, cowo jangan didebat terus. Ngeri kali cowonya.. Lo juga jangan galak-galak Lan,” ujar kawan saya yang lain. Tiap kali komentar itu mampir di telinga saya, saya pasti akan membantah dan mencari penjelasan panjang soal itu. Agak risih dan gerah juga dengernya.

Saya sampai capek menjelaskan alasannya. Terakhir saya ingat dengan kata-kata si Papa Tupai soal relationship. “Gw cari cewe yang gak sempurna, dan membutuhkan gw. Jadi gw merasa dihargai dan menjadikan dia cewe yang sempurna” itu sabdanya, disela-sela makan nasi gila.

Lantas, sikap saya yang mandiri dan berusaha untuk tidak terlalu bergantung itu salah? Sikap kritis saya itu terkesan merendahkan laki-laki? Padahal, saya tidak pernah berusaha sedikitpun merendahkan kaum adam (lantas mengapa mereka merasa jadi rendah?). Jangankan bertindak merendahkan, sejak dalam pikiran saja  tidak akan saya lakukan. Saya berusaha menjalankan kata-kata Pram, ‘Bertindaklah adil sejak dalam pikiran’. Itu yang (berusaha) selalu saya pegang.

Lalu kenapa pria merasa terintimidasi dengan sikap mandiri saya? Bukankah seharusnya mereka bangga memiliki wanita yang bisa mandiri dan bisa diandalkan disamping bisa juga bermanja disaat bersamaan?!

Kadang saya ingiiiiiiiin sekali berteriak! Sikap dan pemikiran saya saat ini bukan ujug-ujug terbentuk begitu saja. Saya sedih dan cukup terpukul saat banyak orang mengatakan hal-hal yang mereka sendiri saya yakin tidak tahu kebenarannya.

Kalau saya boleh berkisah, saya tumbuh dan besar tanpa sosok seorang Ayah. Saya dibesarkan oleh seorang wanita sederhana yang memiliki cinta luar biasa besarnya! Hidup di tengah masyarakat yang cukup ‘ramah’, dan mungkin hampir  bisa dibilang terlalu ramah sampai mencampuri urusan pribadi orang lain itu memang tidak mudah. Apalagi menyandang status anak Janda. Tidak mudah untuk Ibu saya, pun saya sebagai anak yang masih dalam proses mencerna makna hidup.

Saya menolak untuk diklasifikasikan sebagai manusia kelas dua, hanya karena saya anak seorang janda. Dan saya ingin membuktikan, tidak semua anak yang berasal dari keluarga berantakan menjadi anak yang kacau. Anak yang melarikan diri ke narkoba dan dunia kekerasan. Tidak! Itu bukan tujuan hidup saya!

Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa menjadi anak normal yang bisa bahagia tanpa sosok ayah. Meskipun pada akhirnya proses dewasanya saya selalu saja timpang.

Kalau boleh saya meminjam istilah Sakti, saya diibaratkan Perempuan Pejuang (tapi bukan Xena The Warrior Princess). Saya tumbuh dan berjuang untuk mencari bahagia, mencari makna hidup yang seutuhnya. Merasa ditantang untuk membuktikan bahwa saya pantas untuk dilihat utuh, bukan sebelah mata saja.

Hal ini yang terkadang menjadikan saya sosok wanita yang keras kepala dan teguh pendirian. Namun sekaligus sangat rapuh dibalik sikap (sok) tegarnya. Dan sayangnya hal ini yang tidak dilihat oleh mereka. Para kaum adam. Mereka  yang akhirnya lebih memilih mundur (karena terlalu gengsi mengakui bahwa pria dan wanita bisa sejajar) daripada memperjuangkan hati saya dan mencoba melunakkan nya.

Dan pada akhirnya saya mencoba berdamai dengan semua itu. Seorang nasihat kawan membesarkan hati saya, “Mereka tidak melihat Wulan secara utuh. Tandanya mereka bukanlah pria yang layak untuk dicintai juga Lan. Kalau pria itu bisa melunakkan kamu dan membuat pertahanan rapuhmu menjadi lebih kuat dengan cara yang manis, pria itu yang layak untuk diperjuangkan oleh Pejuang Perempuan seperti kamu” tandasnya.

Ya, saya percaya akan ada pejantan tangguh yang memang benar-benar bisa memperjuangkan hati saya. Melihat saya jauh dibalik sikap tegas dan sikap mandiri ini dan menjadikan saya wanita sempurna dengan segala kekurangan saya. :)

Kandang Beruang, 23.45 wib

Jul
17

Sebuah pertanyaan usil masuk ke dalam situs jejaring sosial saya semalam, “Nama keluarga calon lo?”. Pertanyaan menggelitik yang wajar sekali ketika saya mengganti nama di kicau halaman saya. Kenapa harus Tia Buchari?

more…

Category: ceritaku  Tags: ,  Leave a Comment
Jun
05

Makan siang di AW (bukan promosi apalagi iklan, ini hanya kebetulan semata.. tsaah!) hari minggu kemarin membawa pencerahan buat saya. Pembicaraan sederhana yang mulanya hanya sekedar mencurahkan uneg-uneg justru berbuntut panjang.

Singkat cerita, kami, saya Neli dan Atre membahas perihal hati. Pembicaraan klise tapi kali ini dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini setiap kita patah hati, pasti mencari pengalihan lain. Entah gebetan baru, kegiatan baru, teman-teman baru dan banyak cara untuk menghilangkan rasa sedih itu.

Padahal rasa sedih itu ya dinikmatin ajah. Simple, tapi ya belum tentu juga sih bisa dilakuin. Seperti halnya hari ini, rasanya saya pengen banget nangis untuk alasan yang tidak ada sama sekali. Hanya ingin membersihkan mata dan sedikit membuang rasa sesak yang ada di dada.

Kalau kata seorang temen yang ikutan yoga, rasa sedih itu manusiawi dan kita patut melewatinya. Jangan langsung membuangnya untuk mencari pelarian karena suatu saat rasa sakit itu datang dan menggunung. Kalau sudah menggunung, ya siap-siap saja meletus. Kayak bom!

Kalau dipikir-pikir bener juga sih. Kadang kita hanya butuh menangis sesaat, dipeluk sebentar, dan kemudian selesai. Sudah, segitu saja! Sederhana bukan?

Dan hari ini saya menikmati rasa sedih saya dengan secangkir kopi pemberian Rangga serta sebungkus kuaci rasa susu(jangan tanya rasanya) yang Alhamdulillah banget mengalihkan segalanya (ya iyalah soalnya sibuk bukain kulit kuaci, hehe). Dan satu lagi, rasa sedih saya justru berubah jadi rasa penasaran “Di perusahaan kuaci ada bagian kualiti control gak yah?” soalnya kuaci yang saya dapat semuanya dalam kondisi prima (baca: semua ada isinya). Apakah harga pengaruh? Haha, ini akan jadi postingan saya selanjutnya. Quality Control of Kuaci! *mulai ngelantur*

Intinya, rasa sedih yang datang itu manusiawi. Apapun dan bagaimanapun rasanya ya dinikmatin aja, gak perlu sibuk dan bingung cari pengalihan karena toh kita butuh itu untuk refleksi diri dan membersihkan ‘kuman’ yang ada di hati. Cukup dengan menikmatinya, dan berdamai dengan rasanya! Selamat mencoba, saya! :)

*tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat tercinta di luar sana. Tenang kawan, dunia itu sangat indah. Jangan halangi pandangan mu dengan bulir air mata berkepanjangan. Setelah selesai, ayo bangun dan kita berlari bersama lagi!*

Design Room, 5 Juni 2012

Category: ceritaku  Tags: ,  Leave a Comment
May
31

Tidak ada kabar yang lebih membahagiakan pagi ini, selain dari kabar dari seorang kawan yang baru saja menjalin sebuah hubungan. Mengapa saya begitu bahagia? Toh ini juga tidak ada hubungannya dengan saya.

Bahagia tentu saja, karena ini juga menyangkut kebahagiaan seseorang. Tapi saya justru terkejut, karena yang jadian ini adalah kawan saya semasa SMA dengan sahabatnya sendiri. Hmm..sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Tapi kalau flash back ke masa sekolah dulu, sepertinya hubungan mereka itu tidak lebih dari sekedar musuh bebuyutan yang tidak pernah akur.

Si wanita yang cerewet luar biasa, perfectsionist sejati, dan melankolis di saat yang bersamaan. Bertolak belakang dengan si pria. Cuek, ketus, pendiam namun sedikit gila. Dan selalu protes apapun keputusan yang diambil oleh si wanita. (Maklum mereka dulu satu organisasi).

Yah, memang pada akhirnya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ketika tangan Tuhan sudah turut campur , semuanya pun jadi mungkin.

Saya jadi merenung sejenak. Betapa hidup ini penuh misteri dan kejutan, layaknya rollercoaster. Klise memang, tapi toh begitu adanya. Naik dan turunnya kehidupan seseorang tidak pernah bisa diduga. Apa yang terjadi 5 menit mendatang, 1 jam lagi, hingga tahun depan, kita tidak pernah tahu. Selalu saja ada ‘kejutan’ dibalik semua kejadian. Baik atau buruk, itu semua rahasia.

Dan satu hal yang saya percaya, tidak ada yang tidak mungkin di mata Tuhan. Ketika Tuhan berkehendak, maka terjadilah. Seperti halnya kisah kasih dua orang kawan saya itu. Meskipun di mata saya dan teman-teman lain sepertinya tidak mungkin, namun semua terjadi ketika Tuhan bilang itu terjadi.

Dan saya belajar satu hal. Jangan pernah menolak dan berkata tidak untuk siapa saja yang mungkin di ‘jodohkan’ oleh teman-teman. Karena tidak menuutup kemungkinan kalau ternyata orang tersebut adalah jodoh kita. Dan saya belajar untuk tidak membenci orang terlalu dalam, karena saya takut kelak saya terlalu mencintainya. Karma does exist, girl! :)

Oct
12

Entah karena masih pengaruh pawang hujan yang terlalu kuat atau memang Tuhan tengah memberikan kami perhentian sejenak. Itu sih yang ada dalam pikiran saya. Mengapa saya katakan demikian? Yaa, sudah dua hari ini langit Jakarta begitu cerahnya. Bahkan kemarin begitu panasnya sampai-sampai saya mengira salah satu pintu neraka telah terbuka. *hehe, ini lebay*
more…

Category: ceritaku  Tags: , ,  One Comment