Tag-Archive for » #7daysofwriting «

Jun
20

from baltyra

from baltyra

Hi kamu.. penguntai kata-kata dan perayu paling setia! Apa kabar sore mu? Bagaimana senjamu di ujung sana? Kamu mau tahu seperti apa senjaku kali ini? Senjaku tidak ada yang seindah dirimu.

Kamu masih ingat saat kita berada di sebuah hutan kecil dipinggir kota? Itu adalah hari terindah dalam hidupku. Karena aku mendapatkan dua buah senja manis sekaligus dalam sekali hirupan nafas panjang.

Senja berwarna jingga kemerahan menggayut manja diujung barat, menyembul diantara rimbunnya pohon tua, serta senja yang menebarkan aroma nan rupawan yang kini berjalan bersisian denganku. Aku tidak menyangka, betapa Tuhan menyayangiku begitu dalamnya sehingga Ia pun dengan senang hati memberiku begitu banyak bonus kebahagian sore itu.

Aroma pohon pinus yang tercium lamat-lamat menebarkan kesegaran yang berbaur dengan dentingan dawai gitar yang menelusup memberikan semangat yang selalu kunantikan.

Dan apakah kamu masih ingat, tupai kecil yang jatuh saat membawa kenari tua, yang berusaha melompat namun harus pasrah menerima nasib terjatuh karena beban perutnya yang sedikit bergelambir? Lalu kamu yang mengeluh sebal karena harus tertiban tubuh gempalnya tepat diatas kepala? Haha.. Maafkan aku saat itu yang hanya bisa tertawa melihatnya. Aku terlalu sibuk memegangi perutku yang sakit karena bibirmu yang makin bersungut ketika si tupai kecil yang malang meninggalkan hadiah sempurna hasil fermentasi di lambungnya.

Haha.. meskipun sebal, toh akhirnya kau berdamai dengannya, bukan? Aku senang melihatnya. Sisi manismu masih tetap ada, meskipun usiamu tidak lagi terbilang muda. Dan si tupai kecil pun jadi hewan pertama yang kita namakan berdua.

Stitch nama yang akhirnya kita putuskan bersama. Meskipun aku tidak terlalu setuju, melihat si tupai itu terlalu lugu juga lucu harus menyanding nama stitch si monster biru yang bersahabat dengan Lilo. Tapi aku jauh lebih tidak setuju ketika kamu ingin menamakannya Scratch si tupai yang ada di Ice Age favorit kita.

Aku tak mau kalau sampai tupai mungil umm.. tunggu aku ralat, tupai gembul ini menjadi begitu serakah seperti scratch. Alasan tidak masuk akalku yang membuatmu terpingkal geli karena menganggap aku terlalu mendramatisir situasi ini. Tapi kau mengamini nya juga bukan?

Aku juga masih ingat betul muka keberatanmu ketika aku melontarkan nama ‘Luna’ untuk si tupai. “Masa tupai namanya sama kayak kucingnya Usagi Tsukino?!” Sanggahanmu yang membuatku terkejut dan terpana, membongkar sebuah rahasia kecil kalau ternyata kau adalah pencinta Sailormoon seperti halnya aku! Hahaha..

Dan kita pun bersenandung riang ketika senja mulai terkerat setengah sempurna. “Kubermandikan cahaya bulan, yang cemerlang dimalam yang terang..” sayup sayup terdengar senandung riang ost sailormoon yang kita nyanyikan bersama. Dan tawa pun mengalun dengan riangnya.

Tanganmu dan tanganku bertautan, melenggang meninggalkan hutan di pinggiran kota. Melambaikan salam perpisahan untuk si tupai yang kini sudah aman berada di lubangnya yang kita beri nama, “Rahasia”.

Jun
08

Day – 5

Andai pelangi itu bisa berpindah, sepertinya tempat pertama yang akan ia tuju adalah hatiku. Yaa..karena hatiku menjadi seperti pelangi saat mengenalmu. Berwarna warni melengkung indah menembus batas waktu yang menjadi pembatas rindu selama ini.

Layaknya pagi ini. Petikan gitar John Mayer yang mengalun sayup-sayup menelusup ke ruangan membuatku bersenandung lirik-lirik manis. Tubuhku bergerak tanpa perintah, kakiku mengikuti ketukan irama. Ringan dan riang yang kurasa.

Tanpa kusadari kau pun larut dalam nada. Bernyanyi dan menirukan aksi panggung Mayer serta kepiawaiannya mencumbu dawai gitar. Oh, senja.. Kau membuat ku larut dalam kekaguman. Tingkah mu lucu! Membuatku terdiam, terpaku dan membisu.

Dentum irama membanjiri ruangan yang sepertinya ikut berdendang bersama. Beraksi layaknya sedang di panggung dengan gegap gempita penonton diudara. Seolah kita ini adalah pasangan duet yang  tengah dimabuk asmara. Kurasa jika Endah n Rhesa menyaksikan penampilan kita saat ini kuyakin mereka akan khawatir tergantikan dengan kebersamaan kita. Ha..ha..tentu saja itu hanya imaji iseng ku saja.

Senja, ijinkan aku memohon sang  waktu untuk berhenti sebentaaar saja. Dan membiarkan diriku larut bersama dengan senyum manismu yang selalu mengecup lembut hariku. Syahdu tiada ragu.

Dan ketika lirik terakhir mengalun, kitapun mengakhirinya dengan tawa lepas. Seperti melepas sesak yang mengganjal. Bebas!

Kembali menapaki aktivitas semula, memasang wajah serius yang kontras dengan rupa riang semenit lalu. Degup jantungku masih belum bisa kukendalikan seperti sedia kala.

Dan kurasa ini bukan karena lonjakan kakiku yang nakal saja tapi juga terpancing ombak asmaramu yang tak henti merayuku hingga membuatku memendarkan warna warni serupa pelangi.

Jun
04

Day- 4

Hey kamu! Yang sejak jumpa pertama enggan sekali pergi dari benakku! Apa kabarmu di sana? Adakah kamu menanyakan keberadaan ku kini? Mengapa aku tidak hadir mendampingi mu hari ini? Mengapa mejaku tetap saja rapi tanpa ada suara ‘delman’ terputar dari leptop ku?

Adakah kau merindukanku hari ini? Ah, hal ini membuatku gila! Gila karena harus bertarung dengan rasa sakit. Bertarung dengan rasa rindu akan sosok tegapmu. Dan bertarung melawan semua keinginanku untuk berlari menujumu seharian ini. Arrggghh!

Tuhan, tolong bunuh rinduku!

Jun
03

Day - 3

“Hatchii..”

Kamu sakit, pujangga? Pilu rasa ini mendengar suaramu di seberang sana. Resah ku datang tetiba, tak ada lagi semangat membara bertemu dengan rutinitas. Yang aku ingin hanya lari dan berhambur dalam pelukmu dan meyakinkan diri bahwa kamu baik-baik saja.

Jarum jam seperti enggan bergerak dan hanya mempermainkanku dalam zona waktu semu yang aku sendiri tidak tahu, apakah ini waktu ku, waktumu atau waktu kita yang berbiacara. Kuperhatikan layar gadget ku yang tidak mungkin berubah meski sudah kupandangi penuh harap lebih dari dua jam.

Aku hanya ingin tahu, bagaimana keadaanmu. Itu saja. Pujangga, andai saja kau tahu, resah sekali rasanya hati ini. Sofa empuk berwarna cokelat yang jadi tempat sandaran favoritku itu kini tak lagi nyaman. Aku hanya bisa memasrahkan diri dan memanjatkan doa untukmu, semoga kau baik-baik saja dan segera kembali dalam benakku.

Jun
02

Cinta? Apa iya aku telah jatuh dan mencinta lagi? Seperti apa rasanya? Aku belum merasakan gelembung-gelembung dalam perut yang lari menuju hati yang membuatnya berdesir tiap kali melihatmu. Yaa meskipun aku yakin aku suka. Tapi, apa iya ini cinta?

Sebelum aku berkata aku cinta, aku tahu pasti aku bersuka cita bertemu denganmu! Tapi aku sendiri tak tahu harus kusebut apa perasaan ini. Euphoria atau benar-benar jatuh dan tenggelam dalam rasa yang dinama cinta.

Tapi satu yang pasti, aku menikmatinya. Aku larut dan bahagia bersama dengan rasa ini. Rasa ini menjadi candu dan meletupkan hati yang beku. Rasa hangat di hati menjalar dan merebak cepat hingga meretas semu merah di pipi. Ah, aku telah menjadi pemujamu belakangan!

Aku tak mau rasa ini pergi dengan cepat seperti ketika ia datang dan menyambarku tiba-tiba. Aku ingin merasakan rasa ini pelan-pelan dan melenakan diriku dalam rasa. Ku harap kamu tahu dan menyambut rasa ini pelan namun pasti.

Dari aku yang mengagumimu…

Jun
01

Day - 1

“Hai, gw Lingga”

Sapaan hangat pagi itu sepertinya baru kemarin. Wajahmu yang sumringah saat mengulurkan tangan membuatku terkejut pagi itu. Senyuman manis yang tersungging dari bibir tipismu ternyata sudah mencuri hatiku yang sedikit beku karena pagi belum juga melunturkan embun rindunya.

Tawa mu khas! Meskipun aku belum genap 12 jam mengenalmu, tapi aku sudah hafal betul renyah tawamu disela-sela menorehkan tinta paper art itu. Belum lagi aroma mu yang membuatku nyaman duduk berlama-lama di sampingmu.

Ah, Tuhan memang adil! Tak keberatan aku harus menjadi ‘monyet kopaja’ demi bertemu denganmu setiap hari. Bertemu denganmu itu bukan hanya candu untuk rinduku, tapi juga jadi harapan manis untuk hatiku yang kini tak lagi kelabu. Hmm… andai kau tahu itu!

Suatu hari pasti aku akan kirimkan surat ini kepadamu. Tidak hari ini, tidak bulan ini, tidak! Ada hari dimana aku dan kamu sudah bisa duduk bersama dalam doa keluarga kita. Mungkin hari itu surat ini bisa kau buka dan baca. Sebagai selingan bincang sore kita, dimana kuungkap rahasia ku sebagai seorang pengagum yang setia. Ya…aku sudah menjadi pengagummu meski pun baru 7 jam saja.