Ngobrolin makanan yang asyik buat berbuka itu pasti gak ada habisnya. Tiap orang punya selera masing-masing yang saya yakin semuanya enak-enak. Yummy! Kali ini, selain memenuhi tantangan minggu kemarin perihal #SemingguSatu saya juga mau berbagi soal makanan yang paling saya suka tiap Ramadhan tiba. Apa saja sih?
Archive for the Category »ceritaku «
Tulisan ini bukan kisah Ibu Kita Kartini, bukan juga cerita Cut Njak Dien. Apalagi cerita Marsinah, buruh yang mati 19 tahun lalu dan sempat menggemparkan dunia karena kisah tragisnya. Bukan, bukan itu semua. Ini semua murni pemikiran saya yang risau dengan beberapa pemikiran orang beberapa tahun terakhir.
Tetiba saya teringat obrolan dengan beberapa teman. Ini soal kehidupan percintaan saya, yang belakangan memang cukup drama. Hehe..

Gak perlu jadi srikandi juga kan? :D
“Lo itu terlalu mandiri sih, Lan!” itu komentar seorang teman beberapa tahun lalu menanggapi cerita saya. “Mbok ya jadi cewe jangan terlalu pinter, cowo jangan didebat terus. Ngeri kali cowonya.. Lo juga jangan galak-galak Lan,” ujar kawan saya yang lain. Tiap kali komentar itu mampir di telinga saya, saya pasti akan membantah dan mencari penjelasan panjang soal itu. Agak risih dan gerah juga dengernya.
Saya sampai capek menjelaskan alasannya. Terakhir saya ingat dengan kata-kata si Papa Tupai soal relationship. “Gw cari cewe yang gak sempurna, dan membutuhkan gw. Jadi gw merasa dihargai dan menjadikan dia cewe yang sempurna” itu sabdanya, disela-sela makan nasi gila.
Lantas, sikap saya yang mandiri dan berusaha untuk tidak terlalu bergantung itu salah? Sikap kritis saya itu terkesan merendahkan laki-laki? Padahal, saya tidak pernah berusaha sedikitpun merendahkan kaum adam (lantas mengapa mereka merasa jadi rendah?). Jangankan bertindak merendahkan, sejak dalam pikiran saja tidak akan saya lakukan. Saya berusaha menjalankan kata-kata Pram, ‘Bertindaklah adil sejak dalam pikiran’. Itu yang (berusaha) selalu saya pegang.
Lalu kenapa pria merasa terintimidasi dengan sikap mandiri saya? Bukankah seharusnya mereka bangga memiliki wanita yang bisa mandiri dan bisa diandalkan disamping bisa juga bermanja disaat bersamaan?!
Kadang saya ingiiiiiiiin sekali berteriak! Sikap dan pemikiran saya saat ini bukan ujug-ujug terbentuk begitu saja. Saya sedih dan cukup terpukul saat banyak orang mengatakan hal-hal yang mereka sendiri saya yakin tidak tahu kebenarannya.
Kalau saya boleh berkisah, saya tumbuh dan besar tanpa sosok seorang Ayah. Saya dibesarkan oleh seorang wanita sederhana yang memiliki cinta luar biasa besarnya! Hidup di tengah masyarakat yang cukup ‘ramah’, dan mungkin hampir bisa dibilang terlalu ramah sampai mencampuri urusan pribadi orang lain itu memang tidak mudah. Apalagi menyandang status anak Janda. Tidak mudah untuk Ibu saya, pun saya sebagai anak yang masih dalam proses mencerna makna hidup.
Saya menolak untuk diklasifikasikan sebagai manusia kelas dua, hanya karena saya anak seorang janda. Dan saya ingin membuktikan, tidak semua anak yang berasal dari keluarga berantakan menjadi anak yang kacau. Anak yang melarikan diri ke narkoba dan dunia kekerasan. Tidak! Itu bukan tujuan hidup saya!
Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa menjadi anak normal yang bisa bahagia tanpa sosok ayah. Meskipun pada akhirnya proses dewasanya saya selalu saja timpang.
Kalau boleh saya meminjam istilah Sakti, saya diibaratkan Perempuan Pejuang (tapi bukan Xena The Warrior Princess). Saya tumbuh dan berjuang untuk mencari bahagia, mencari makna hidup yang seutuhnya. Merasa ditantang untuk membuktikan bahwa saya pantas untuk dilihat utuh, bukan sebelah mata saja.
Hal ini yang terkadang menjadikan saya sosok wanita yang keras kepala dan teguh pendirian. Namun sekaligus sangat rapuh dibalik sikap (sok) tegarnya. Dan sayangnya hal ini yang tidak dilihat oleh mereka. Para kaum adam. Mereka yang akhirnya lebih memilih mundur (karena terlalu gengsi mengakui bahwa pria dan wanita bisa sejajar) daripada memperjuangkan hati saya dan mencoba melunakkan nya.
Dan pada akhirnya saya mencoba berdamai dengan semua itu. Seorang nasihat kawan membesarkan hati saya, “Mereka tidak melihat Wulan secara utuh. Tandanya mereka bukanlah pria yang layak untuk dicintai juga Lan. Kalau pria itu bisa melunakkan kamu dan membuat pertahanan rapuhmu menjadi lebih kuat dengan cara yang manis, pria itu yang layak untuk diperjuangkan oleh Pejuang Perempuan seperti kamu” tandasnya.
Ya, saya percaya akan ada pejantan tangguh yang memang benar-benar bisa memperjuangkan hati saya. Melihat saya jauh dibalik sikap tegas dan sikap mandiri ini dan menjadikan saya wanita sempurna dengan segala kekurangan saya.
Kandang Beruang, 23.45 wib
Sebelum saya bercerita, jika kamu mengharapkan ini adalah cerita religi penuh dengan nilai-nilai kebaikan manusia sebaiknya urungkan niatmu untuk membaca tulisan ini lebih jauh. Saya ngga mau ada kekecewaan setelahnya. #tsaaah #Lokatenolakcowo
Malam ini adalah malam pertama saya mengikuti tarawih berjamaah. Saya tidak tarawih di Mesjid bersama dengan sebagian besar orang yang ada di kampung ini. Saya memilih tarawih menemani Mbun (panggilan akrab ibu saya) di mushola kecil yang letaknya persis di belakang rumah.
Alasannya, kaki Mbun sakit dan saya lebih suka menemani beliau di sini. Selain itu, mushola di sini jamaahnya adalah wanita semua, jadi lebih tenang. Tidak banyak yang bercanda. Tapi tidak ada pemandangan bagus sesudahnya. #eaaa #salahfokus
Lanjut lagi. Tadi saya sudah bilang kalau jamaah di sini wanita semua kan? Oke..oke..Hehe.. Jangan bayangkan wanita-wanita muda yang ada di sini. Wanita termuda itu ya saya (bukan sok muda, tapi itu memang kenyataannya). Jumlah jamaahnya mungkin sekitar 30 orang (dihari pertama tentu saja yang kian menyusut tiap harinya). Dan kebanyakan dari mereka adalah lansia dan ibu-ibu paruh baya. Alasan mereka sederhana, karena sudah tidak bisa berjalan jauh, makanya sholat tarawih di mushola ini diadakan. Mayoritas yang datang semua saya panggil uwak atau nenek. Hihihi.. *udah kebayang berapa usia mereka kan?*
Yang menarik adalah, sebelum sholat dimulai biasanya mereka akan saling sapa dan menceritakan perihal puasa mereka seharian. Atau kejadian-kejadian seputar masak memasak sahur dan persiapan menu berbuka yang kalau dipikir-pikir tidak pernah berubah tiap tahunnya.
Kisah-kisah menarik lainnya yang selalu mereka ceritakan adalah kondisi kesehatan. Keluhan-keluhan seputar asam urat, rematik, dan juga pengapuran itu sudah jadi hal yang lumrah terlontar dari bibir keriput yang termakan usia.
Kadang saya suka terkikik geli dengan celoteh mereka yang sering ‘heboh’ sendiri dan yang pasti konyol-konyol.Tapi sekaligus sedih melihat kondisi mereka saat ini, apalagi saya yang sudah kenal sejak kecil. Dan jamaah ini pun berkurang tiap tahunnya karena ada saja satu diantara mereka yang berpulang. :’)
Saya salut sekaligus iri dengan semangat mereka. Meskipun sudah sepuh dan ada keterbatasan kesehatan yang membuat mereka sulit bergerak dengan cepat, tapi mereka masih punya satu semangat untuk beribadah di bulan Ramadhan. Saya jadi malu sendiri. Kadang saya memilih untuk tidur-tiduran atau mantengin layar sentuh ketimbang tarawih. Alasannya karena terlalu capek di kantor.
Padahal kalau memang niat, semuanya itu jadi mungkin. Ah..mudah-mudahan saja semua itu berubah di tahun ini. Amiin..
Tetiba saya jadi penasaran. Bagaimana dengan ‘rumpian’ menjelang tarawih pada jamaah pria ya? Ada yang bisa share?
Masih di Kandang Beruang, 22.23
Sebuah pertanyaan usil masuk ke dalam situs jejaring sosial saya semalam, “Nama keluarga calon lo?”. Pertanyaan menggelitik yang wajar sekali ketika saya mengganti nama di kicau halaman saya. Kenapa harus Tia Buchari?
Makan siang di AW (bukan promosi apalagi iklan, ini hanya kebetulan semata.. tsaah!) hari minggu kemarin membawa pencerahan buat saya. Pembicaraan sederhana yang mulanya hanya sekedar mencurahkan uneg-uneg justru berbuntut panjang.
Singkat cerita, kami, saya Neli dan Atre membahas perihal hati. Pembicaraan klise tapi kali ini dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini setiap kita patah hati, pasti mencari pengalihan lain. Entah gebetan baru, kegiatan baru, teman-teman baru dan banyak cara untuk menghilangkan rasa sedih itu.
Padahal rasa sedih itu ya dinikmatin ajah. Simple, tapi ya belum tentu juga sih bisa dilakuin. Seperti halnya hari ini, rasanya saya pengen banget nangis untuk alasan yang tidak ada sama sekali. Hanya ingin membersihkan mata dan sedikit membuang rasa sesak yang ada di dada.
Kalau kata seorang temen yang ikutan yoga, rasa sedih itu manusiawi dan kita patut melewatinya. Jangan langsung membuangnya untuk mencari pelarian karena suatu saat rasa sakit itu datang dan menggunung. Kalau sudah menggunung, ya siap-siap saja meletus. Kayak bom!
Kalau dipikir-pikir bener juga sih. Kadang kita hanya butuh menangis sesaat, dipeluk sebentar, dan kemudian selesai. Sudah, segitu saja! Sederhana bukan?
Dan hari ini saya menikmati rasa sedih saya dengan secangkir kopi pemberian Rangga serta sebungkus kuaci rasa susu(jangan tanya rasanya) yang Alhamdulillah banget mengalihkan segalanya (ya iyalah soalnya sibuk bukain kulit kuaci, hehe). Dan satu lagi, rasa sedih saya justru berubah jadi rasa penasaran “Di perusahaan kuaci ada bagian kualiti control gak yah?” soalnya kuaci yang saya dapat semuanya dalam kondisi prima (baca: semua ada isinya). Apakah harga pengaruh? Haha, ini akan jadi postingan saya selanjutnya. Quality Control of Kuaci! *mulai ngelantur*
Intinya, rasa sedih yang datang itu manusiawi. Apapun dan bagaimanapun rasanya ya dinikmatin aja, gak perlu sibuk dan bingung cari pengalihan karena toh kita butuh itu untuk refleksi diri dan membersihkan ‘kuman’ yang ada di hati. Cukup dengan menikmatinya, dan berdamai dengan rasanya! Selamat mencoba, saya!
*tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat tercinta di luar sana. Tenang kawan, dunia itu sangat indah. Jangan halangi pandangan mu dengan bulir air mata berkepanjangan. Setelah selesai, ayo bangun dan kita berlari bersama lagi!*
Design Room, 5 Juni 2012
Tidak ada kabar yang lebih membahagiakan pagi ini, selain dari kabar dari seorang kawan yang baru saja menjalin sebuah hubungan. Mengapa saya begitu bahagia? Toh ini juga tidak ada hubungannya dengan saya.
Bahagia tentu saja, karena ini juga menyangkut kebahagiaan seseorang. Tapi saya justru terkejut, karena yang jadian ini adalah kawan saya semasa SMA dengan sahabatnya sendiri. Hmm..sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Tapi kalau flash back ke masa sekolah dulu, sepertinya hubungan mereka itu tidak lebih dari sekedar musuh bebuyutan yang tidak pernah akur.
Si wanita yang cerewet luar biasa, perfectsionist sejati, dan melankolis di saat yang bersamaan. Bertolak belakang dengan si pria. Cuek, ketus, pendiam namun sedikit gila. Dan selalu protes apapun keputusan yang diambil oleh si wanita. (Maklum mereka dulu satu organisasi).
Yah, memang pada akhirnya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ketika tangan Tuhan sudah turut campur , semuanya pun jadi mungkin.
Saya jadi merenung sejenak. Betapa hidup ini penuh misteri dan kejutan, layaknya rollercoaster. Klise memang, tapi toh begitu adanya. Naik dan turunnya kehidupan seseorang tidak pernah bisa diduga. Apa yang terjadi 5 menit mendatang, 1 jam lagi, hingga tahun depan, kita tidak pernah tahu. Selalu saja ada ‘kejutan’ dibalik semua kejadian. Baik atau buruk, itu semua rahasia.
Dan satu hal yang saya percaya, tidak ada yang tidak mungkin di mata Tuhan. Ketika Tuhan berkehendak, maka terjadilah. Seperti halnya kisah kasih dua orang kawan saya itu. Meskipun di mata saya dan teman-teman lain sepertinya tidak mungkin, namun semua terjadi ketika Tuhan bilang itu terjadi.
Dan saya belajar satu hal. Jangan pernah menolak dan berkata tidak untuk siapa saja yang mungkin di ‘jodohkan’ oleh teman-teman. Karena tidak menuutup kemungkinan kalau ternyata orang tersebut adalah jodoh kita. Dan saya belajar untuk tidak membenci orang terlalu dalam, karena saya takut kelak saya terlalu mencintainya. Karma does exist, girl!
Siang yang terik ditambah dengan rasa deg-deg ser yang dari pagi entah kenapa ogah banget pergi dari hati saya siang itu. Ruangan saya yang berukuran 3×4 dengan AC yang nggeber dari tadi ternyata ngga bisa ngilangin rasa ‘gerah’ yang mulai menjadi.
Bingung? Yak, silakan pegangan. Pegangan hatimuuu!
Jadi ceritanya siang ini saya ada presentasi tentang satu project ke beberapa divisi lain. Yang bikin saya deg-deg ser sih bukannya materi yang akan saya bawakan. Tapi lebih karena saya harus menyajikannya dihadapan para pembesar-pembesar perusahaan tempat saya bernaung. Ditambah ada yang ganteng pulak!
*woy! Inget tugas mulia*
*Dilempar infocus*
Sepertinya semuanya sudah lengkap dan siap untuk bertarung rrr.. maksunya presentasi. Gilak! Berasa banget ditelanjangin waktu masuk ke dalam ruangan. Orang-orangnya gak banyak. Ruangannya pun tidak seberapa besar, tapi rasa ‘gerah’ tiba-tiba saja menyerang!
Lagi asyik-asyiknya presentasi dan berbicara panjang kali lebar sama dengan luas kalau dikali tinggi menghasilkan volume. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ‘Centung’ yang saya abaikan. Namun makin menjadi-jadi.
Tatapan menelanjangi dari bapak-bapak paruh baya di hadapan saya berubah jadi cengar-cengir menggoda yang bikin saya makin panik dan bingung dibuatnya. Iseng saya lirik laptop yang masih nyolok sama INFOCUS! Dan ketika saya nengok ke belakang layar.. alamakjang!
Ini kalau Timbuktu ada di depan mata saya langsung terjun bebas ke sana dan ogah balik lagi ke ruangan ini.
Ada sebuah pesan dari kawan lama di Yahoo messenger saya. Yang bangkek nya dia ini emang temen ledek-ledekan saya yang sudah lama banget gak ketemu.
Kira-kira begini isi pesannya:
“Anak beruaaaaaangg.. kemana saja dirimuuu??? HIbernasi apa masih benerin hati yang remuk gak kelar-kelar? =)) “
*dyeemm!!! Woy, jangan buka aib gw!*
Yak, panik tidak terkira. Bagaimana nggak. Lha ini aib puluhan tahun terbongkar begitu aja. Di depan orang-orang yang menjadi penentu nasib project saya kedepannya pulak! Berasa mau mati? Banget!!!! Kalau ada sarung, saya mending menenggelamkan diri di balik sarung dan pergi sejauh-jauhnya.
*kenapa sarung? Entah kenapa gw kepikiran sarung saat nulis ini*
Lanjut.
Kaget setengah mati saat melihat pesan itu. Buru-buru saya ijin untuk nulis pesan agar si pengirim pesan tidak membombardir saya dengan hinaan selanjutnya. Singkat saya menjawab,
“I’m on meeting. We talk later!”
Tidak berapa lama… *tring*
“Bah anak beruang meeting? Cieeee.. bos nya ganteng deh pasti!”
Dang! Rasanya saya mau tenggelem aja deh. Biar gak usah ngadepin anak kingkong satu ini dan gak perlu nyengir nahan malu di depan orang yang ada di ruangan ini. (_ _!)
Dan sekali lagi saya meminta maaf kepada peserta meeting dan SEGERA mematikan YM dan lanjut menjelaskan presentasi saya yang sudah tidak bisa saya kendalikan lagi.
Singkat cerita. Saya telah melewati presentasi siang itu dengan cukup baik.
Sebelum keluar salah satu big boss itu menyalami saya dan tertawa kecil sambil bilang
“Lain kali kalau mau meeting YM nya dimatiin dulu ya….Anak Beruang!” dan ia pun berlalu sambil menahan geli yang diamini oleh rekan-rekan lainnya.
Njiiiirrr.. anak beruang?! Dan sejak hari itu nama saya sudah positif berubah jadi ANAK BERUANG dikalangan teman-teman kantor.
Pesan moral portingan ini: PASTIKAN YM MATI SAAT MEETING!
Gegap gempita Gedung Kesenian Jakarta membuat dinginnya hujan malam itu sedikit terhangatkan. Kerlap kerlip baju merah yang wara wiri di hampir sebagian besar GKJ menambah hangat suasana. Saat Babah Daniel masuk ke dalam ruangan dan berkelakar, saya sontak berteriak “Apeeeuuuuu….”. Tak disangka, ada satu suara lain berteriak hal yang sama di sisi balkon. Mata kami bertemu dan senyum lebar menghiasi wajah tirusnya.
Itulah kali pertama saya bertemu dengannya, pertengahan 2010 silam. Astri Apriyani namanya, atau yang kerap disapa Atre. Tidak tahu persisnya kapan kami menjadi sahabat. Tapi yang pasti, kejadian di GKJ malam itu mengawali perkenalan kami.

Etra n Atre after Sepuluh Show, GKJ 2011
Obrolan kian hangat saat mengetahui kalau kami satu arah tujuan pulang, Pasar Minggu-Depok. Obrolan pun kami lanjutkan sampai di taksi. Singkat cerita kami bertukar telepon dan facebook malam itu.
Sampai pada akhirnya, saya mengetahui kalau Atre adalah salah satu petualang ACI2010. Telepon sore itu menanyakan perihal letak kantor Detikcom, kantor di mana saya masih bernaung masa itu. Obrolan singkat di telepon membawa saya dan Atre ke pertemuan selanjutnya. Kalau kami bilang sih, ngopi-ngopi cantik! Hehe..
Selama masa petualangan, saya dan Atre selalu berbagi cerita. Baik lewat sms, FB, ataupun watsap (waktu itu kami belum saling follow twitter). Program ACI2010 telah selesai, namun pertemanan kami justru kian membara. (duh! Bahasanya euy..)
Apalagi latar belakang pekerjaan kami yang memang sama. Kuli tinta. Kekompakan kami tidak hanya di dunia maya, tapi juga saat berburu berita. Tidak jarang kami membuat janji temu di sela-sela waktu wawancara. Meskipun rubrik yang dipegangnya tidaklah sama dengan saya.

Betina, Bulan Film Nasional 2011, TIM
Kadang saya dengan senang hati ‘diculik’ untuk menemani liputan musik, teater, ataupun film. Berlagak jadi fotografer, partner reporter yang setia pun dilakukan. Hehe.. Dan tidak jarang pula ia saya culik ke liputan kuliner yang saya hadiri. Lagi-lagi, dia sebagai fotografer partner saya. Istilah kerennya sih, kami ini ‘Partner in Crime’. Hahaha…

Atre, Arne, Etra. Backstage GKJ, Sepuluh Show, 2011
Sampai suatu ketika, kami berdua ingin menonton pertunjukkan KunoKini di Rollingstone. Sore menjelang sebelum pertunjukkan, kami mendapati senja cantik diujung jalan. Teriak histeris kami lakukan. “Huaaaa… senjanya kereeeeennnnn!” lagi-lagi derai tawa terburai seketika.
“Jadi kamu suka senja?” ujarnya kala itu.
“Bangeeettt!” timpal saya menanggapi. “Huaaa.. kita samaaa!” jeritnya.
Senja seperti ‘benang merah’ untuk kami berdua. Kemana saja Atre bepergian, ia tak pernah lupa mengirimkan senja untuk saya. Begitupula sebaliknya, kemana pun saya pergi ketika saya mendapati senja cantik di luar sana tak pernah saya lupa untuk berkirim dengannya. Bisa dibilang, senja jadi oleh-oleh paling berharga saat bepergian. Hehehe
Dan purnama adalah hal lainnya yang kami bagi sambil menyesap kopi hangat dan seporsi matcha toast favorit kami.
Hehe, aneh memang! Kalau banyak orang bilang “gw deket banget sama dia karena kita udah kenal lama,” itu gak berlaku antara hubungan saya dengan Atre. Kami saling mengenal, berbagi cerita suka, berbagi tawa ceria, serta berbagi air mata begitu saja.
Kedekatan kami bukan karena waktu, tapi lebih karena kami melengkapi satu sama lain. Meskipun saya tidak bisa pungkiri, kesibukan kami membatasi waktu temu yang belum tentu satu bulan sekali. Tapi saya yakin, kami saling mendoakan satu sama lain. Atre dengan tempat barunya, dan saya dengan kesibukan baru yang jauh berbeda dari biasanya. Dan senja, memang jadi pengikat pada akhirnya. Ya, karena kami Sahabat Senja.
O ya, satu hal lagi. Ternyata Atre itu sahabat Nelli masa kuliah. Klop deh! Jadilah kami ini tri mbak getir! Ahahaha…. Atre, Etra, Arne (itu julukan kami).

TriMbakGetir (Arne, Etra, Atre), #DM22

'say cheese' before watching movie :D
Hai.. Perkenalkan, saya Eka (kanan). Saya (masih) perempuan yang menghobi baca, salah satunya baca blog milik orang lain. Yang bikin saya mampir ke blog salah seorang rekan saya yang ternyata sedang mengadakan sayembara. (bah, macam cari jodoh saja! Haha) Saya seorang blogger drafter, menulis blog tidak pernah sampai di publish, hanya sampai kolom draft. *semoga yang satu ini cepat bisa diobati*
Saya memiliki seorang sahabat perempuan, Arnellis namanya. Kami bersahabat sekitar.. hmm.. hampir 15 tahun lamanya. Jangan pernah bayangkan persahabatan macam cerita-cerita di novel ataupun film yang memiliki puluhan kesamaan yang menjadikan mereka bersama dalam kurun waktu yang lama. (yaa, meskipun kita temenan udah lama banget sih)

Bersiap 'ngebolang' ke museum-museum, 2009
Bisa dibilang saya dan Nelli (panggilan akrab nya) tidak ada kesamaan sejak kali pertama jumpa. Bingung? Saya pun demikian. Pertemanan kami tercipta justru karena bukan banyaknya persamaan, melainkan tak terhitungnya perbedaan.
Kami bertengkar, kami berargumen, saling mencela, saling tidak mengerti jalan pikiran masing-masing, tapi kami tidak memilih untuk pergi dan mencari pertemanan lain. Kami selalu kembali kapada satu titik yang sama.
Perkenalan saya dengan Nelli dimulai sejak duduk di bangku SMP. Rambut kriwilnya yang notabene sama dengan saya memang menjadi pemicu awal obrolan kami. Kelas Bahasa adalah kelas yang membuat obrolan saya dengannya mengalir diawal. Dan mading adalah oase bagi kami yang memang haus kata-kata.
Nelli menyukai sastra sejak SMP (itu sejauh yang saya ingat hingga kini) dan saya menyukai seni khususnya paduan suara. Entah darimana titik temu itu bermula sehingga kami bisa mengenal satu sama lain.
Seiring waktu berjalan, persahabatan kami kian erat. Meskipun begitu, tidak banyak orang yang tahu kalau ternyata kami berdua sangat dekat satu sama lain.
Nelli adalah sahabat saya yang bisa menegur saya ataupun marah terhadap saya ketika saya memilih hal yang salah. Dia tidak akan protes apapun pilihan saya tapi dia akan memberikan gambaran seperti apa jika saya memilih pilihan tersebut.
Dan saya bukan orang yang segan untuk marah dan protes dengan keputusannya. Meskipun begitu, kami tidak pernah menyimpannya lama-lama dalam hati.
Tidak sedikit air mata yang kami lalui bersama. Jatuh bangunnya kisah percintaan, karier, keluarga, semuanya pernah kami bagi. Travelling adalah kegiatan yang selalu saya dan Nelli jadwalkan sesudah lebaran bersama dengan teman karib lainnya (meski kini sudah jarang dilakukan).

'Ngilang' di Tidung, 2008
Kami sama-sama lahir di tanggal 4 namun berbeda bulan. Nelli lahir 4 bulan lebih cepat dari saya. Buat kami, mungkin ini satu-satunya hal yang sama diantara kami berdua. Meskipun dari segi usia dia lebih tua, tapi ternyata urusan pemikiran kadang saya jadi seperti kakak buatnya. *sok tua sih kadang-kadang, hehe*

Bike For Fun, hobi saya dan Nelli :D
Hingga saat ini tidak sedikit teman-teman kami yang bertanya “kok bisa sih kalian deket” aneh sih memang. Tapi ya kami justru bilang, “karena kita beda!” kami yakin sekali dengan jawaban itu. Hehehe.. Nelli yang ambisius dan saya yang lebih tenang menghadapi dia. Dia tipe orang yang panik dengan hal-hal baru dan saya yang lebih sering menenangkan dia dan memberikan pandangan yang berbeda.

Monster Gigi, #DM 2011
Belakangan, saya mengetahui kalau ketertarikan saya dengannya secara emosional justru makin terlihat di belakang hari. Keinginan saya membuat taman bacaan bak gayung bersambut olehnya. Ketertarikan kami dengan dunia anak-anak ternyata memang jadi benang merah yang ampuh melandasi persahabatan ini.

Kegiatan #DongengMinggu Saya dan Nelli, 2012
Ya, itulah kami. Si duo keriting yang sudah gak keliatan lagi keritingnya. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Kami jarang bertemu, tapi kami berkomunikasi dengan cara kami sendiri. Buat saya itu lebih dari cukup. Dan persahabatn sebenernaya bukan dihitung berapa lamanya pertemanan tapi seberapa jauh mengerti diri masing-masing. Dan kami memang memenuhi keduanya. Tidak hanya waktu yang lama tapi kami juga saling mengisi. J

