Author Archive

Aug
07

Rasa haru kadang datang bukan karena duka, bukan juga bahagia, namun merayap karena memori yang terbuka. Haru yang menelusup kadang menyesakkan, namun kadang juga menyenangkan. Membuncah membuyarkan lamunan dan membentuk serangkaian pemikiran.

Seperti sore ini, rasa haru ini begitu kurang ajar! Ia datang tetiba, membuat mata ini buram karena tak kuasa membendung bulir air mata yang terasa hangat membelai pipi. Haru  yang campur aduk rasanya, membuat senyum tersungging sempurna disela air mata yang masih saja merembas seenaknya.

In a while, in a word,

Every moment now returns.

For a while, seen or heard,

How each memory softly burns.

Facing you who brings me new tomorrows,

I thank God for yesterdays,

How they led me to this very hour,

How they led me to this place...”

Sepenggal lagu ‘Two Words’ milik Lea Salonga mengalun, menguntai nada indah, menemani saya menikmati indahnya langit sore yang cerah. Membawa kenangan manis setahun lalu mampir kembali sore ini.

Di sebuah Gereja di pinggiran kota, seorang pria tampan berjas hitam berdiri dengan gagahnya berjalan menuju altar. Sikap tenangnya tidak juga menutupi rasa gugup yang menggayut halus di wajahnya. Hari ini adalah hari yang paling dinantinya setelah 8 tahun perjalanan yang berlalu tidak tanpa suka dan duka.

Perjalanan panjang untuk dapat meminang gadis manis berbalut gaun putih panjang yang kini tengah menggamit lengan kanan si pria dengan lembutnya sambil sesekali tersipu malu.
“Ah betapa cantiknya ia. Tak pernah kulihat ia begitu cantik memesona seperti hari ini,” mungkin itu yang ada di dalam pikirannya saat berjalan bersisian dengannya. Ada rona bangga dan rasa lega yang tersirat saat seluruh mata tertuju kepada mereka dan mengantarkan pasangan berbahagia itu dalam jutaan doa menuju altar pemberkatan. Sorot mata bahagia menghilangkan ragu, menyapu gelisah yang sejak pagi iseng menggoda.

Every touch, every smile,

You have given me in care.

Keep in heart, always I’ll,

Now be treasuring everywhere.

And if life should come to just one question,

Do I hold this moment true?

No trace of sadness, A

lways with gladness…

‘I DO…’

Janji manis nan sakral di hadapan Tuhan serta Pastur yang mengikat hubungan mereka membuat semua yang hadir merasakan getaran haru yang begitu syahdu. Sebuah simbol pengikat melingkar di masing-masing jari manis mereka yang dipasang dengan penuh cinta.

"I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you"

"I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you"

Now a song that speaks of now and ever,

Beckons me to someone new,

Unexpected, unexplored, unseen,

Filled with promise coming through.”

Kini, tak ada lagi yang menghalangi jalan cinta yang mereka jalin. Janji sehidup semati di hadapan Tuhan membawa mereka menjadi manusia yang baru. Menjadikan mereka satu dalam doa setiap hati yang hadir kala itu.

You and I forever change,

Love so clear, never blurred,

Has me feeling wondrous, strange,

And if life should come to just one question,

Do I face each moment true?

No trace of sadness, always with gladness, ‘I DO…’

Never with sadness…

Always with gladness… ‘I…DO….’ “


Kemarin, masih ada ‘aku dan kamu’ tapi kini semua berubah menjadi ‘kita’.  Dan ini bukan lah akhir dari cerita cinta yang telah diperjuangkan selama delapan tahun, namun menjadi sebuah awal yang baru menjalani sebuah kehidupan yang dinamakan ‘bahtera rumah tangga’. Semoga perahu yang berlayar ini selalu dijalani dengan penuh suka cita dan cerita bahagia meski badai pasti akan terus menggoda.

Denting piano yang mengiringi Lea Salonga tuntas membawa keharuan yang begitu menggebu di hati saya. Hanya sepenggal doa untuk mereka - pasangan yang berbahagia yang tersenyum saat melangkah keluar dari Gereja – sahabat saya tercinta, Lesti & Iwan. Semoga bahagia tak pernah sungkan mampir di rumah tangga kalian.Kini dan nanti.

With love,

the happiest sister :’)

(thank you for allowing me write the happiest moment of you,dear)

My warmest place, 07082012

Aug
03


Foto milik mbah Google :)

Foto milik mbah Google :)

Kehidupan jaman sekarang dengan segala tuntutan yang cukup tinggi memang menyita banyak waktu. Khususnya mereka yang tinggal di Ibukota, tak terkecuali saya. Segala sesuatunya berjalan sangat cepat dan tiba-tiba sudah berganti hari tanpa kita sadari.

Saya jadi berpikir, kadang kita perlu memperlambat diri barang sejenak saja. Bukan memanjakan rasa malas, tapi lebih kepada memberikan tubuh ini sedikit jeda untuk bernafas dan berinteraksi dengan alam.

Diam, dan biarkan mata ini menyapu keadaan lingkungan sekitar. Dan bersyukur atas apa yang ada, sehingga kita tahu betul bahwa semua yang ada di dunia ini begitu indah. Ajaib dan menakjubkan. Bahkan semut berbaris pun jadi satu irama manis yang akan mengisi rongga hati yang sudah terlampau kaku dengan budaya metropolitan.

Yuk, berhenti sejenak.. melambatkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih berisi dan matang :)

Kopaja, Ampera Raya 08.22

Jul
23

Ngobrolin makanan yang asyik buat berbuka itu pasti gak ada habisnya. Tiap orang punya selera masing-masing yang saya yakin semuanya enak-enak. Yummy! Kali ini, selain memenuhi tantangan minggu kemarin perihal #SemingguSatu saya juga mau berbagi soal makanan yang paling saya suka tiap Ramadhan tiba. Apa saja sih?

more…

Jul
22

Tulisan ini bukan kisah Ibu Kita Kartini, bukan juga cerita Cut Njak Dien. Apalagi cerita Marsinah, buruh  yang mati 19 tahun lalu dan sempat menggemparkan dunia karena kisah tragisnya. Bukan, bukan itu semua. Ini semua murni pemikiran saya yang risau dengan beberapa pemikiran orang beberapa tahun terakhir.

Tetiba saya teringat obrolan dengan beberapa teman. Ini soal kehidupan percintaan saya, yang belakangan memang cukup drama. Hehe..

Gak perlu jadi srikandi juga kan? :D

Gak perlu jadi srikandi juga kan? :D

“Lo itu terlalu mandiri sih, Lan!” itu komentar seorang teman beberapa tahun lalu menanggapi cerita saya. “Mbok ya jadi cewe jangan terlalu pinter, cowo jangan didebat terus. Ngeri kali cowonya.. Lo juga jangan galak-galak Lan,” ujar kawan saya yang lain. Tiap kali komentar itu mampir di telinga saya, saya pasti akan membantah dan mencari penjelasan panjang soal itu. Agak risih dan gerah juga dengernya.

Saya sampai capek menjelaskan alasannya. Terakhir saya ingat dengan kata-kata si Papa Tupai soal relationship. “Gw cari cewe yang gak sempurna, dan membutuhkan gw. Jadi gw merasa dihargai dan menjadikan dia cewe yang sempurna” itu sabdanya, disela-sela makan nasi gila.

Lantas, sikap saya yang mandiri dan berusaha untuk tidak terlalu bergantung itu salah? Sikap kritis saya itu terkesan merendahkan laki-laki? Padahal, saya tidak pernah berusaha sedikitpun merendahkan kaum adam (lantas mengapa mereka merasa jadi rendah?). Jangankan bertindak merendahkan, sejak dalam pikiran saja  tidak akan saya lakukan. Saya berusaha menjalankan kata-kata Pram, ‘Bertindaklah adil sejak dalam pikiran’. Itu yang (berusaha) selalu saya pegang.

Lalu kenapa pria merasa terintimidasi dengan sikap mandiri saya? Bukankah seharusnya mereka bangga memiliki wanita yang bisa mandiri dan bisa diandalkan disamping bisa juga bermanja disaat bersamaan?!

Kadang saya ingiiiiiiiin sekali berteriak! Sikap dan pemikiran saya saat ini bukan ujug-ujug terbentuk begitu saja. Saya sedih dan cukup terpukul saat banyak orang mengatakan hal-hal yang mereka sendiri saya yakin tidak tahu kebenarannya.

Kalau saya boleh berkisah, saya tumbuh dan besar tanpa sosok seorang Ayah. Saya dibesarkan oleh seorang wanita sederhana yang memiliki cinta luar biasa besarnya! Hidup di tengah masyarakat yang cukup ‘ramah’, dan mungkin hampir  bisa dibilang terlalu ramah sampai mencampuri urusan pribadi orang lain itu memang tidak mudah. Apalagi menyandang status anak Janda. Tidak mudah untuk Ibu saya, pun saya sebagai anak yang masih dalam proses mencerna makna hidup.

Saya menolak untuk diklasifikasikan sebagai manusia kelas dua, hanya karena saya anak seorang janda. Dan saya ingin membuktikan, tidak semua anak yang berasal dari keluarga berantakan menjadi anak yang kacau. Anak yang melarikan diri ke narkoba dan dunia kekerasan. Tidak! Itu bukan tujuan hidup saya!

Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa menjadi anak normal yang bisa bahagia tanpa sosok ayah. Meskipun pada akhirnya proses dewasanya saya selalu saja timpang.

Kalau boleh saya meminjam istilah Sakti, saya diibaratkan Perempuan Pejuang (tapi bukan Xena The Warrior Princess). Saya tumbuh dan berjuang untuk mencari bahagia, mencari makna hidup yang seutuhnya. Merasa ditantang untuk membuktikan bahwa saya pantas untuk dilihat utuh, bukan sebelah mata saja.

Hal ini yang terkadang menjadikan saya sosok wanita yang keras kepala dan teguh pendirian. Namun sekaligus sangat rapuh dibalik sikap (sok) tegarnya. Dan sayangnya hal ini yang tidak dilihat oleh mereka. Para kaum adam. Mereka  yang akhirnya lebih memilih mundur (karena terlalu gengsi mengakui bahwa pria dan wanita bisa sejajar) daripada memperjuangkan hati saya dan mencoba melunakkan nya.

Dan pada akhirnya saya mencoba berdamai dengan semua itu. Seorang nasihat kawan membesarkan hati saya, “Mereka tidak melihat Wulan secara utuh. Tandanya mereka bukanlah pria yang layak untuk dicintai juga Lan. Kalau pria itu bisa melunakkan kamu dan membuat pertahanan rapuhmu menjadi lebih kuat dengan cara yang manis, pria itu yang layak untuk diperjuangkan oleh Pejuang Perempuan seperti kamu” tandasnya.

Ya, saya percaya akan ada pejantan tangguh yang memang benar-benar bisa memperjuangkan hati saya. Melihat saya jauh dibalik sikap tegas dan sikap mandiri ini dan menjadikan saya wanita sempurna dengan segala kekurangan saya. :)

Kandang Beruang, 23.45 wib

Jul
21

Sebelum saya bercerita, jika kamu mengharapkan ini adalah cerita religi penuh dengan nilai-nilai kebaikan manusia sebaiknya urungkan niatmu untuk membaca tulisan ini lebih jauh. Saya ngga mau ada kekecewaan setelahnya. #tsaaah #Lokatenolakcowo

Malam ini adalah malam pertama saya mengikuti tarawih berjamaah. Saya tidak tarawih di Mesjid bersama dengan sebagian besar orang yang ada di kampung ini. Saya memilih tarawih menemani Mbun (panggilan akrab ibu saya) di mushola kecil yang letaknya persis di belakang rumah.

Alasannya, kaki Mbun sakit dan saya lebih suka menemani beliau di sini. Selain itu, mushola di sini jamaahnya adalah wanita semua, jadi lebih tenang. Tidak banyak yang bercanda. Tapi tidak ada pemandangan bagus sesudahnya. #eaaa #salahfokus

Lanjut lagi. Tadi saya sudah bilang kalau jamaah di sini wanita semua kan? Oke..oke..Hehe.. Jangan bayangkan wanita-wanita muda yang ada di sini. Wanita termuda itu ya saya (bukan sok muda, tapi itu memang kenyataannya). Jumlah jamaahnya mungkin sekitar 30 orang (dihari pertama tentu saja yang kian menyusut tiap harinya). Dan kebanyakan dari mereka adalah lansia dan ibu-ibu paruh baya. Alasan mereka sederhana, karena sudah tidak bisa berjalan jauh, makanya sholat tarawih di mushola ini diadakan. Mayoritas yang datang semua saya panggil uwak atau nenek. Hihihi.. *udah kebayang berapa usia mereka kan?*

Foto: Ilustrasi Jamaah Wanita (kolomislami)

Foto: Ilustrasi Jamaah Wanita (kolomislami)

Yang menarik adalah, sebelum sholat dimulai biasanya mereka akan saling sapa dan menceritakan perihal puasa mereka seharian. Atau kejadian-kejadian seputar masak memasak sahur dan persiapan menu berbuka yang kalau dipikir-pikir tidak pernah berubah tiap tahunnya.

Kisah-kisah menarik lainnya yang selalu mereka ceritakan adalah kondisi kesehatan. Keluhan-keluhan seputar asam urat, rematik, dan juga pengapuran itu sudah jadi hal yang lumrah terlontar dari bibir keriput yang termakan usia.

Kadang saya suka terkikik geli dengan celoteh mereka yang sering ‘heboh’ sendiri dan yang pasti konyol-konyol.Tapi sekaligus sedih melihat kondisi mereka saat ini, apalagi saya yang sudah kenal sejak kecil. Dan jamaah ini pun berkurang tiap tahunnya karena ada saja satu diantara mereka yang berpulang. :’)

Saya salut sekaligus iri dengan semangat mereka. Meskipun sudah sepuh dan ada keterbatasan kesehatan yang membuat mereka sulit bergerak dengan cepat, tapi mereka masih punya satu semangat untuk beribadah di bulan Ramadhan. Saya jadi malu sendiri. Kadang saya memilih untuk tidur-tiduran atau mantengin layar sentuh ketimbang tarawih. Alasannya karena terlalu capek di kantor.

Padahal kalau memang niat, semuanya itu jadi mungkin. Ah..mudah-mudahan saja semua itu berubah di tahun ini. Amiin..

Tetiba saya jadi penasaran. Bagaimana dengan ‘rumpian’ menjelang tarawih pada jamaah pria ya? Ada yang bisa share? :D

Masih di Kandang Beruang, 22.23

Jul
20

0a2533c45e1bdb0339d6b48ef86fd9e6_couple-in-love-cartoon-dreamstime_xs_17816042“Apa alasan kamu jatuh hati sama dia?” sebuah pertanyaan ini mampir di sore yang mendung Jumat lalu.
“Umm…do I really need a reason to love someone?” hanya itu yang bisa saya jawab dari pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang dijawab pertanyaan. Umm..saya yakin dia bingung! *evil smirk*

Dan saya langsung dibuat terkejut oleh jawabannya. “Kamu umur 20 lewat tapi hati tetep kayak ABG ya..”

*dhuaarrr…*

Hati ABG? Apa maksudnya? Belum lagi saya sempat berargumen dengan otak yang cukup dingin dan hati yang cukup besar, kawan saya kembali menuliskan pesan demikian:

“Loving for no reason is a pure reason. And you can only have a feeling like that when you’re still have a teenage kind of feeling. You know, believe in love and thing like that.”

Haha, ya ya.. Hati ABG. Saya mengerti, karena hanya seorang anak remaja yang bisa menyukai seseorang secara tiba-tiba tanpa suatu alasan yang pasti. Dan bisa bilang benci secepat kilat saat idolanya sudah memiliki tambatan hati yang lain.

Tapi saya bisa bilang, kalau saya berbeda. Saya menyukai seseorang memang tanpa alasan secara harfiah. Maksudnya, bukan karena dia anak nya Jendral Kancil, atau anaknya juragan lele, atau mungkin dia artis kampung sebelah. Bukan, bukan itu.

Mungkin yang dimaksud hati saya dengan ‘no reason’ adalah kenyamanan yang ditawarkan tanpa sengaja oleh sikapnya dan juga hati yang manis untuk bisa menghargai wanita sebagaimana mestinya. Ummm..saya juga mesti waspada sebenarnya. Jangan-jangan, perasaan saya ini bukanlah rasa cinta, melainkan rasa kagum semata. *nah lho?!*

Well, saya harus mengadakan interview lebih jauh lagi nih dengan si pemilik hati (nunjuk kaca). Mungkin dia bisa dapat jawaban yang bukan hanya sekedar “Suka ya suka ajah!”.

Kandang Beruang, 23.00

Jul
20

Yang namanya rejeki sama jodoh itu emang udah ada yang ngatur. Tiap manusia Cuma butuh usaha dan doa supaya bisa dapetin apa yang sesuai dengan yang diinginkan. Masalah keinginan itu dikabulkan atau ngga, ya itu Cuma masalah waktu dan garis hidup yang udah diatur.

I do believe with that, and I can face it. So far saya sudah cukup bisa berdamai dengan apa yang belum ditakdirkan menjadi milik saya. Bahkan untuk urusan jodoh. Tapi siang ini agaknya sedikit berbeda. Seorang kawan lama yang sudah tidak terdengar kabarnya 18 bulan terakhir akhirnya menyapa.

Pertanyaan seputar kabar sepertinya sudah lazim. Tapi kini, ada kabar terbaru darinya yang bikin saya sulit untuk menelan t eh botol ini. Dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Perancis. P E R A N C I S!!! Negara yang benar-benar bikin saya jatuh hati sampai saat ini.

Entahlah, bilang saya iri atau apapun mungkin memang itu yang sebenarnya. Iri yang tidak bisa saya katakana bagaimana rasanya. Senang karena dia berbahagia dengan pencapaiannya, tapi juga sedih karena saya bukan jadi salah satunya.

Melihat lebih jauh ke dalam diri sendiri pada akhirnya adalah jawaban saya. Usaha yang saya lakukan tidak maksimal. Hanya setengah-setangah, jauh berbeda dengannya. Mungkin karena saya tahu, saya hanya mencari beasiswa full bukan half loan.

Saya mencari beasiswa yang menyangkut dengan sastra dan juga musik, yang tentu saja jarang sekali ada. Itu yang bikin saya jadi enggan untuk melanjutkan.

Saya makin membesarkan hati ini dengan berkata, sekolah bisa dimana saja. Selama tujuannya adalah membagikan ilmu sesudahnya. Aaahh..setidaknya ini bisa menenangkan hati saya. Semoga ada rezeki lain yang tak kalah baiknya di kemudian hari, amiin. :)

bonne chance pour votre etude, ijoul.. de mon mieux prier avec vous pour toujours

Kandang Tupai, 09.34

Jul
17

Sebuah pertanyaan usil masuk ke dalam situs jejaring sosial saya semalam, “Nama keluarga calon lo?”. Pertanyaan menggelitik yang wajar sekali ketika saya mengganti nama di kicau halaman saya. Kenapa harus Tia Buchari?

more…

Category: ceritaku  Tags: ,  Leave a Comment
Jun
21

Dear Kamu,

Ternyata aku makin mengagumi setiap apapun yang berhubungan dengan mu. Tidak hanya aroma tubuhmu yang selalu segar setiap hari, tawa renyahmu yang membahana hanya dengan kelakar kecil, dan sekarang aku mengagumi pemikiranmu. Mengagumi pemilihan katamu, dan mengagumi puisi kecil yang sering kau selipkan dalam petikan gitar manis di kala senja menyapaku..

Apakah kamu menyadari akan hadirku, senja? Maaf, aku sudah lancang memberikan secuil nama yang memang kukagumi sejak lama. Ya, menurutku kau ibarat senja. Yang memang enak dinikmati sambil menyesap kopi hangat sehangat sikapmu. Aku ingin jadi penyeimbangmu. Pelengkap hidupmu, dan menjadi alarm ketika kamu mulai melangkah jauh.

Kamu tahu senja, aku sangat menikmati diskusi ringan kita. Diskusi sok pintar yang membuka mataku akan sosokmu. Dan terperangah kagum menemukan banyak benang merah yang terajut antara aku dan juga kamu.

Aku mengerti kamu masih berharap padanya, meski aku tidak sesempurna dia namun aku layak untuk kau lihat dan pertimbangkan.

Senja aku tak pernah berani untuk menunjukkan rasa ini padamu. Ternyata rasa takutku lebih besar sehingga membungkam suara yang sudah bercokol di tenggorokan dan ingin segera terlontar keluar. Aku terlalu lemah untuk pemikiranku yang juga belum tentu akan terjadi.

Aku tak siap dengan penolakan yang akan mengubah sikapmu kepadaku. Lebih baik aku dihujani rayuan banci perempatan yang selalu saja bikin degup jantungku berhenti daripada harus melihatmu menjauh pergi dari hadapku. Ya, aku memang pengecut! Aku mengakuinya, dan aku memilih menikmatimu dalam diam. Menikmatimu dalam sebuah nada sederhana yang mengalun manis tiap kali sore menjelang.

Sebuah doa sederhana pun tak luput kusenandungkan. Sebuah doa yang kurangkai dengan menjalin sebuah harapan dan menyimpul penantian kuharapkan bisa menggapai dasar hatimu yang sepertinya masih disesaki bayangan dirinya.

Semoga secuil tempat masih tersisa untukku. Akan kupatri sebuah nama di dindingnya agar kau selalu ingat bahwa ada seorang wanita yang menantikanmu diujung senja. :)

Dari pengagum setiamu..

Jun
20

from baltyra

from baltyra

Hi kamu.. penguntai kata-kata dan perayu paling setia! Apa kabar sore mu? Bagaimana senjamu di ujung sana? Kamu mau tahu seperti apa senjaku kali ini? Senjaku tidak ada yang seindah dirimu.

Kamu masih ingat saat kita berada di sebuah hutan kecil dipinggir kota? Itu adalah hari terindah dalam hidupku. Karena aku mendapatkan dua buah senja manis sekaligus dalam sekali hirupan nafas panjang.

Senja berwarna jingga kemerahan menggayut manja diujung barat, menyembul diantara rimbunnya pohon tua, serta senja yang menebarkan aroma nan rupawan yang kini berjalan bersisian denganku. Aku tidak menyangka, betapa Tuhan menyayangiku begitu dalamnya sehingga Ia pun dengan senang hati memberiku begitu banyak bonus kebahagian sore itu.

Aroma pohon pinus yang tercium lamat-lamat menebarkan kesegaran yang berbaur dengan dentingan dawai gitar yang menelusup memberikan semangat yang selalu kunantikan.

Dan apakah kamu masih ingat, tupai kecil yang jatuh saat membawa kenari tua, yang berusaha melompat namun harus pasrah menerima nasib terjatuh karena beban perutnya yang sedikit bergelambir? Lalu kamu yang mengeluh sebal karena harus tertiban tubuh gempalnya tepat diatas kepala? Haha.. Maafkan aku saat itu yang hanya bisa tertawa melihatnya. Aku terlalu sibuk memegangi perutku yang sakit karena bibirmu yang makin bersungut ketika si tupai kecil yang malang meninggalkan hadiah sempurna hasil fermentasi di lambungnya.

Haha.. meskipun sebal, toh akhirnya kau berdamai dengannya, bukan? Aku senang melihatnya. Sisi manismu masih tetap ada, meskipun usiamu tidak lagi terbilang muda. Dan si tupai kecil pun jadi hewan pertama yang kita namakan berdua.

Stitch nama yang akhirnya kita putuskan bersama. Meskipun aku tidak terlalu setuju, melihat si tupai itu terlalu lugu juga lucu harus menyanding nama stitch si monster biru yang bersahabat dengan Lilo. Tapi aku jauh lebih tidak setuju ketika kamu ingin menamakannya Scratch si tupai yang ada di Ice Age favorit kita.

Aku tak mau kalau sampai tupai mungil umm.. tunggu aku ralat, tupai gembul ini menjadi begitu serakah seperti scratch. Alasan tidak masuk akalku yang membuatmu terpingkal geli karena menganggap aku terlalu mendramatisir situasi ini. Tapi kau mengamini nya juga bukan?

Aku juga masih ingat betul muka keberatanmu ketika aku melontarkan nama ‘Luna’ untuk si tupai. “Masa tupai namanya sama kayak kucingnya Usagi Tsukino?!” Sanggahanmu yang membuatku terkejut dan terpana, membongkar sebuah rahasia kecil kalau ternyata kau adalah pencinta Sailormoon seperti halnya aku! Hahaha..

Dan kita pun bersenandung riang ketika senja mulai terkerat setengah sempurna. “Kubermandikan cahaya bulan, yang cemerlang dimalam yang terang..” sayup sayup terdengar senandung riang ost sailormoon yang kita nyanyikan bersama. Dan tawa pun mengalun dengan riangnya.

Tanganmu dan tanganku bertautan, melenggang meninggalkan hutan di pinggiran kota. Melambaikan salam perpisahan untuk si tupai yang kini sudah aman berada di lubangnya yang kita beri nama, “Rahasia”.