“Apa alasan kamu jatuh hati sama dia?” sebuah pertanyaan ini mampir di sore yang mendung Jumat lalu.
“Umm…do I really need a reason to love someone?” hanya itu yang bisa saya jawab dari pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang dijawab pertanyaan. Umm..saya yakin dia bingung! *evil smirk*
Dan saya langsung dibuat terkejut oleh jawabannya. “Kamu umur 20 lewat tapi hati tetep kayak ABG ya..”
*dhuaarrr…*
Hati ABG? Apa maksudnya? Belum lagi saya sempat berargumen dengan otak yang cukup dingin dan hati yang cukup besar, kawan saya kembali menuliskan pesan demikian:
“Loving for no reason is a pure reason. And you can only have a feeling like that when you’re still have a teenage kind of feeling. You know, believe in love and thing like that.”
Haha, ya ya.. Hati ABG. Saya mengerti, karena hanya seorang anak remaja yang bisa menyukai seseorang secara tiba-tiba tanpa suatu alasan yang pasti. Dan bisa bilang benci secepat kilat saat idolanya sudah memiliki tambatan hati yang lain.
Tapi saya bisa bilang, kalau saya berbeda. Saya menyukai seseorang memang tanpa alasan secara harfiah. Maksudnya, bukan karena dia anak nya Jendral Kancil, atau anaknya juragan lele, atau mungkin dia artis kampung sebelah. Bukan, bukan itu.
Mungkin yang dimaksud hati saya dengan ‘no reason’ adalah kenyamanan yang ditawarkan tanpa sengaja oleh sikapnya dan juga hati yang manis untuk bisa menghargai wanita sebagaimana mestinya. Ummm..saya juga mesti waspada sebenarnya. Jangan-jangan, perasaan saya ini bukanlah rasa cinta, melainkan rasa kagum semata. *nah lho?!*
Well, saya harus mengadakan interview lebih jauh lagi nih dengan si pemilik hati (nunjuk kaca). Mungkin dia bisa dapat jawaban yang bukan hanya sekedar “Suka ya suka ajah!”.
Kandang Beruang, 23.00
