Jul
17

Sebuah pertanyaan usil masuk ke dalam situs jejaring sosial saya semalam, “Nama keluarga calon lo?”. Pertanyaan menggelitik yang wajar sekali ketika saya mengganti nama di kicau halaman saya. Kenapa harus Tia Buchari?

Sederhana saja. Nama itu terngiang terus sesorean. Nama lengkap saya Eka Septia Wulan, biasa dipanggil Wulan tapi kini lebih dikenal dengan nama Eka. Sedangkan Tia adalah panggilan keluarga sejak kecil. Dan Buchari adalah nama belakang keluarga dari pihak Ayah. Abuchari lebih tepatnya.

Sore yang absurd memang, tetiba saya mendengar nama Tia Buchari berkumandang di telinga. Nama yang kerap kali diucapkan ayah saya ketika saya kecil. Nama yang hanya sesekali saya dengar ketika saya ‘ogah’ menuruti kata-kata lelaki yang saya kenal hanya dalam cerita Ibu dan sanak keluarga saja.

Biasanya, Ayah akan memanggil saya demikian “Tiaaa… Nak, sini sebentar.” Itu panggilan pertama. “Tiuuut, lagi apa sih? Kesini sebentar nak” Itu panggilan kedua. “TIA BUCHARI, will you come here or …” biasanya kalau sudah menyebutkan kata kunci itu, saya ogah berlama-lama lagi dan meluncur segera ke sumber suara.

Ya, itulah awalnya. Tia Buchari nama asing untuk sebagian besar orang tapi tidak untuk telinga kecil saya. Sayup-sayup terdengar nama itu mampir berbisik ditelinga. Sepertinya saya harus segera datang ke ‘rumah’ ayah saya. Rumah dimana beliau telah damai bersama Bucik Emi dan juga sang pencipta.

Rumah yang lama sekali tidak saya kunjungi karena batin ini belum bisa berdamai. Dan sepertinya saat ini saya sudah siap.

Design Room, 17 Juli 2012


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Category: ceritaku  Tags: ,
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>