“Mil, papah Mil.. Papah..,” ujar seseorang di seberang sana terbata-bata.
“Maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Iya Mil, papah akhirnya tahu. Barusan Mba Riska sms-in papah. Dan sekarang papah kepikiran terus,” suara nya makin terdengar lemas dan putus-putus.
“Haloo..haloo, kamu masih disitu?” desakku berusaha memastikan sambungan ini belum terputus.
“Iya Mil, iya.. aku masih ada di sini,” suaranya makin tak jelas.
“Kamu jagain papah yah, aku ke tempatmu sekarang,” belum sempat kuputuskan sambungan telepon tiba-tiba mataku terbuka.
Ya Tuhan, ini hanya mimpi! Tapi mengapa ini terasa begitu nyata? Semuanya seperti baru saja terjadi. Aku jelas mendengar suaranya sejelas aku berbicara dihadapannya. Tanpa pikir panjang lagi kusambar Hp yang tergletak di sudut tempat tidur, kuketikkan sebuah pesan singkat.
Saat akan menekan tombol ’send’ buru-buru kuhapus semua pesan tadi. Waktu masih terlalu dini, kuyakin ia pun masih sangat jauh di alam mimpi. Huff.. sudahlah, besok saja kukirimkan pesan ini. Pikirku dalam hati. Kucoba kembali merebahkan diri, mencoba merajut mimpi kembali. Meskipun pikiran tentang dirinya terus saja menari-nari tanpa henti. Sampai akhirnya aku lelah dan jatuh terlelap kembali. Zzzz…
Paginya, aku bangun dengan kepala seperti habis terhantam gada raksasa. Bunda sudah tak heran jika melihatku begini. “Kamu gak bisa tidur lagi, Mil?” sapanya sambil menyodorkan segelas cokelat hangat. Aku hanya mengangguk lemas sambil mengumpulkan segenap nyawa. “Kali ini apa?” tanyanya lagi sambil mengoleskan selai cokelat di selembar roti gandum sarapan pagiku.
Huuffff.. kuhela nafasku dalam-dalam. Bersiap menjelaskan perihal mimpi semalam. Tapi aku terlalu lemas untuk membagi ceritaku ini. “Nanti ya Mbun, aku masih lemes nih. Kumpulin nyawa dulu yah,” ujarku sambil meneguk perlahan cokelat hangat kesuakaan ku. Untung saja Bunda mengerti keadaanku ini. Beliau hanya tersenyum dan mengusap kepalaku hangat sambil berlalu menuju dapur.
Aku mulai merasa segar setelah dua tangkup roti selai cokelat mengganjal perut dan tubuh ini sudah disiram air pagi. Kuhampiri Bunda yang tangah asyik berkutat dengan kamboja-kamboja nya yang tengah bermekaran pagi ini. “Mbun,” sapaku yang langsung disambut oleh Bunda yang masih belum beranjak dari kamboja merah yang sedang ia stek.
“Semalem kejadian lagi mbun, kaya nyata deh..,” aku membuka pembicaraan.
“Lalu?” tanya Bunda penasaran. Ia pun langsung duduk di sampingku.
“Hmm..aku gak tau Mbun. Dia tiba-tiba telepon aku dan bicara soal papahnya. Perasaaan ku ngga enak. Kayanya papahnya lagi sakit deh Mbun,” kata-kataku ini meluncur mulus namun lemas mengingat mimpi semalam.
“Kamu udah tanya sama dia langsung?” tanya Bunda lagi.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. “Biar gak penasaran, coba sekarang kamu telepon atau sms dia. Tanya keadaannya dan keluarganya. Biar kamu gak penasaran. Okey?” Ahhh.. bundaku ini memang paling bisa membuatku merasa lebih baik. Tapi ini hal yang berbeda.
“Aku gak berani mbun,” jawabku lemas. Sambil kutarik lutut ini dan meringkuk mataku menerawang entah kemana.
“hhmmpp, semoga semuanya baik-baik ajah yah Mbun,” aku berusaha berdamai dengan hatiku saat mengatakan demikian meskipun pada kenyataannya tidak.
Aku bangkit untuk bersiap-siap sebelum akhirnya Bunda menghentikan langkahku. “Kamu yakin gak mau tanya dia langsung?” langkahku terhenti, aku hanya bisa menggelengkan kepala dan berlalu.
Minggu pagi, aku berangkat menuju tempat ku mengajar dengan pikiran yang tak tentu. Serangkaian doa kucoba lafalkan berusaha menenangkan diri dan agar ia baik-baik saja. Itu harapku. Sesampainya di kelas, ternyata tak lebih baik juga. Alisa, temanku mengajar menyadari keanehanku hari ini.
“Are you okey, Mil?” tepukan di bahuku sontak membuyarkan lamunanku.
“Yes Lis, im Okey,” kupaksa kembangkan seyumku meskipun aku tahu ia pasti menyadarinya. Tapi aku tak peduli.
“If you wanna share something with me, just let me know dear,” ujar Alisha diiringi anggukkan lemahku.
Langit sore menyemburkan semarak jingga yang memesona. Pikiranku sejenak beralih darinya. Kunikmati ketenangan sore itu di teras rumahku. Membiarkan sinarnya menyapu tiap jengkal kulitku. Hangat terasa.
Setelah seharian dengan pikiran yang tak tentu, membuatku lelah. Bukan mauku tidak menanyakan hal ini langsung padanya. Aku tak mau dianggap aneh olehnya (sejak kapan aku peduli kata-kata orang lain?). Aku tak mau ia semakin menjauhi ku. Cukup sudah perasaan bersalah ini menghinggapiku. Penyesalan karena pernah menanyakan ’sesuatu’ padanya. Entah ini perasaanku saja atau memang dia sudah menganggap aneh diriku.
Kejadian ini bukan kali pertama kualami, sebelumnya aku mendapatkan pertanda tentangnya. Dan akhirnya aku tahu dia sedang dalam kondisi yang kurang baik, tapi ini tak pernah ku katakan langsung padanya. Mengetahui ia dalam keadaan baik, itu sudah cukup! Dan beberapa minggu kemarin, kembali lagi kudapatkan hal yang sama. Dan kali ini adalah kakak kesayangannya. Kuberanikan diri untuk menanyakannya ia pun mencoba menanyakan mengapa aku mengetahuinya. Lagi-lagi aku tak dapat menjelaskannya.
Cukup sudah! Aku tersiksa!
Kusambar Hp yang tengah asyik menyibukkan diri di stop kontak dekat lemari buku. Kucoba berkali-kali mengetikkan pesan singkat untuknya. Dan berkali-kali pula kuhapus kembali. Hati dan pikiranku masih saja terjadi pertentangan. Sampai akhirnya, kubuka situs jejaring sosial yang kupunya. Kuketikkan username dan password, sign in!
Kubuka inbox dan kutelusuri namanya. Ah, untung lah masih ada. Tanpa subjek, kuteruskan pesan terakhirku beberapa minggu lalu. Kuketikkan pesan singkat yang seharusnya bisa ku kirimkan via sms. “Kabar bokap or nyokap gimana? Semoga sehat-sehat yah. Dan semoga bayangan gw salah” hanya itu yang kukirimkan padanya.
Sedikit perasaanku lega, tapi tunggu. Masih ada satu permasalahan lagi. Apa mungkin ia akan membaca pesan ini malam ini? Dan bagaimana kalau dia tidak membacanya sampai beberapa hari nanti? Ah, kutepis jauh-jauh semua perasaan itu. Niatku baik, dan aku tulus menanyakan perihal keadaan orang tuanya. Terlepas dari anggapan dia tentang aku, aku pasrah.
Selang waktu tak lebih dari satu jam, pesanku dibalasnya. “Alhamdulillah semua sehat ya walaupun bokap agak kecapean hari ini. Tapi kenapa kamu jadi sering kirim pesan lewat inbox? Saya gak janji cepat balasnya, jarang buka.” Pesan singkat darinya membuatku senang.
Senang karena semuanya baik-baik saja, meskipun ayahnya sedikit kelelahan. Senang karena dia masih mau membalas pesanku dan senang aku sedikit mampu melepas perasaan yang mengganjal sejak semalam. Meskipun aku tak pernah tahu apa yang sedang dipikirkannya tentangku saat ini.
“Iya juga yah.. Abisnya memang gak tau apa yang aku tanya ini benar atau ngga,” balasku singkat. Dan aku hanya bisa berkata dalam hati, jangan anggap aku aneh. Cukuplah sikapmu yang mulai menjaga jarak denganku. Tapi tolong jangan hukum aku dengan pemikiranmu. Mungkin ini lebih dari sekedar perkataan ku, ini menjadi doa sederhana sore itu.
Busway Koridor 7, Minggu, 7 Maret 2010

Syukur deh sehat sehat aja. Salam
Oh kadi kalo kirim lewat inbox di jejaring sosial itu jangan berharap untuk dibalas ya? :p
terima kasih postingannya ya..
kunjungi halaman kami ya !!