Beberapa tragedi yang terjadi sepanjang tahun 2009 ini memang menyisakan luka yang cukup dalam untuk masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Beberapa tragedi cukup membuat resah masyarakat dan membuat beberapa aktifitas lumpuh total karena takut kejadian yang sama terulang kembali.
Misalnya saja kejadian bom kuningan yang terjadi beberapa bulan lalu. Hal ini telah merubah ritme kehidupan masyarakat Jakarta dalam beberapa bulan ke depan. Tiba-tiba saja pusat perbelanjaan langsung sepi, tempat hiburan seperti kuburan yang tak lagi tampak kehidupannya. Sangat berbanding terbalik ketika dulu gegap gempita selalu terjadi setiap malamnya.
Tapi yang saya bicarakan bukanlah perihal apa yang terjadi dengan pusat perbelanjaan, tempat hiburan ataupun yang lainnya. Justru saya ingin membicarakan tentang mereka, keluarga yang ditinggalkan oleh para korban tragedi tersebut ataupun mereka yang mengalami langsung kejadian ini.
Pernah nggak terpikirkan oleh kalian apa yang dirasakan oleh mereka? Hmm.. saya bisa jamin, pasti yang terucap hanya “kasihan yah..” sambil terus menanyakan seputar kejadian naas itu (maaf, bukan maksud men-judge). Apakah pernah terpikir faktor psikologis yang mereka dapatkan jauh lebih dari kata KASIHAN?
Berondongan pertanyaan seperti “bagaimana perasaan anda saat mengalami hal ini?” atau “tolong ceritakan saat Anda berada di sana?” seperti bombardir. Ya ampun, kadang saya tak habis pikir. Sudah selamat dari bencana itu saja sudah bisa membuat mereka bernafas cukup lega. Lalu mengapa mereka harus menceritakan kisah tragis itu kembali? Itu sama saja membuka dan membasahi luka dengan air garam. Perih!
Saya pun tidak bisa menyalahkan para pencari berita ini, karena saya tahu bagaimana berada di posisi mereka. Mencoba mencari berita dan memberitahukannya kepada semua orang agar tetap waspada. Tapi hal ini juga tak selalu baik karena bisa membuat semua orang paranoid dengan pemberitaan yang terus menerus tidak ada ujungnya.
Membuat semua orang yang memiliki keterkaitan dengan kejadian ini seperti di teror mimpi buruk. Saya coba menempati posisi mereka. Menjadi korban atau menjadi keluarga yang ditinggalakn. Sakit! Harus melihat semua kejadian sialan itu berulang-ulang dan terus menerus dimintai keterangan dari berbagai pihak dengan beragam keperluan.
Saya bisa berkata demikian karena saya memang pernah mengalaminya sendiri di tahun 2004. Pemberitaan di media televisi membuat saya tak mampu menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Televisi tampak seperti momok yang menakutkan dan virus yang patut untuk dihindari. Waktu memang menyembuhkan luka pada akhirnya, tapi tetap saja tidak mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Dan tetap saja menyisakan bekas luka yang sewaktu waktu bisa terbuka jika tidak dirawat dengan semestinya.
Apa yang terjadi kalau hal ini menimpa kalian? Apakah kalian masih sanggup bertahan? Coba renungkan sebelum kembali mencari sebuah jawaban dari mereka para korban dan keluarga korban. Coba bayangkan kalau kalian jadi mereka. Sanggupkah?
Jakarta, Juli 2009

Hello,
Interesting, did you plan to continue this article?
Miato
Thanks Miato.. Maybe someday i’ll continue this article..
kejadian jengkel ini, pernah gue alamin (tp tidak secara langsung). ketika itu ada teman gue meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan sempat masuk berita.
ketika itu gue sedang d rumah duka bersama teman2 gue lainnya, suatu waktu dateng bbrp wartawan untuk meliput kejadian itu. lantas mereka menanyakan hal yg serupa ke pihak kelg korban. dalam hati, “tega” sekali orang ini menanyakan itu.
tp apa di kata, dilain pihak memang ada yg membutuhkan informasinya. kalau gue jadi pihak yg ditinggalkan mungkin akan ada sedikit gejolak bathin yg menyesakkan. cuman sebagai umat Islam harus selalu bertawakal-bersyukur-ikhlas ….
Thanks Miato.. Hmm..maybe someday i’ll continue my article.. Why?
Hmm.. ambil sisi positifnya ajah pak