Badan demam yang tak kunjung reda sejak subuh tadi membawa saya ke pekarangan seorang dokter malam ini. Dokter langganan keluarga yang hari ini harus rela saya usik waktu istirahatnya karena demam saya yang tak juga mau turun. Seorang wanita berusia sekitar 26 tahun menyambut saya di ambang pintu. Mempersilakan saya duduk dan mulai mencatat nama dan keperluan administratif lainnya. more…
Entah karena masih pengaruh pawang hujan yang terlalu kuat atau memang Tuhan tengah memberikan kami perhentian sejenak. Itu sih yang ada dalam pikiran saya. Mengapa saya katakan demikian? Yaa, sudah dua hari ini langit Jakarta begitu cerahnya. Bahkan kemarin begitu panasnya sampai-sampai saya mengira salah satu pintu neraka telah terbuka. *hehe, ini lebay*
more…
Mata tak lagi mau terpejam, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Bukan tak mau, tapi seperti ada yang mengharuskan saya terjaga malam ini. Pikiran saya lelah, batin saya lelah, tak terkecuali tubuh ini. Lelah ini berubah menjadi resah hingga menimbulkan gundah.. Ah,ada apa ini?
Mana senyum yang selalu tersungging? Kemana tawa renyah yang selalu terdengar tiap kali berkelakar ringan. Wajah ini terlalu sendu! Murung! Tak enak dipandang.
Terlihat sekali lelah yang teramat dalam di sudut mata ini. Tak perlu ditutupi dengan eye shadow warna cerah, karena ‘mendung’ ini sudah siap menumpahkan isi perutnya. Hei! Ada apa denganmu, wanita?!
Seperti ada duri kecil disudut hati yang tak bisa saya cungkil. Sakit? Itu sudah pasti. Menangis? Ah, cengeng betul saya! Dan akhirnya saya cuma mampu menahannya. Meski rasa ini perih setengah mati!!!
Patah hati? Tak sedikit yang menduga demikian. Tapi bukan itu,meski ada juga unsur ini di dalamnya. Saya tak bisa menjelaskan apa yg saya rasa. Semuanya terlalu absurd, semua ini terjadi bersamaan. Sehingga saya sendiri tak tahu,air mata ini untuk yang mana? Tawa ini untuk bagian yang mana?? Terlalu tipis bedanya!
Tapi satu hal yang pasti, kini saya tengah membenahi hati dan memperbaiki hati saya yang sesungguhnya.
Malam bulan,rangkaian indah doa coba kulantunkan. Sambil mencoba menahan sakit yang tengah menyerang hati yang sebenarnya. *menarik selimut*
Baiklah,ini sudah kesekian kalinya saya mengalami insomnia. Ya..ya…ya,sulit tidur akut lebih tepatnya! Browsing sana sini, ‘berkicau’ di jejaring sosial ternyata hanya mampu membunuh rasa bosan tidak lebih dari 30 menit.
Dan kini,saya terjaga!!! Dengan mata mulai membengkak dan senut-senut dikepala yang semakin menggila. *ada yang lebih buruk?*
Tapi ada hikmah dibalik insomnia ini. Akhirnya saya memiliki waktu untuk ‘menjenguk Coffee Corner saya yang sudah terbengkalai sejal beberapa bulan terakhir. *sok sibuk*
Blog walking yang saya lakukan sejak tadi ternyata menyedot perhatian saya. Ah,betapa menyenangkannya menuangkan isi pikiran di ‘dunia’ ini. Dan saya berusaha untuk lebih ’sayang dan perhatian’ dg si Coffee Corner ini.
*hooaaammm* <– ceritanya nguap
Yak,tampaknya sudah mulai ngantuk nih. *merangkai doa,menarik selimut*
“Mil, papah Mil.. Papah..,” ujar seseorang di seberang sana terbata-bata.
“Maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Iya Mil, papah akhirnya tahu. Barusan Mba Riska sms-in papah. Dan sekarang papah kepikiran terus,” suara nya makin terdengar lemas dan putus-putus.
“Haloo..haloo, kamu masih disitu?” desakku berusaha memastikan sambungan ini belum terputus.
“Iya Mil, iya.. aku masih ada di sini,” suaranya makin tak jelas. more…
“Kok bisa hilang?” adalah komentar seorang teman sabtu kemarin saat ia tak juga bisa menemukan nama saya di situs jejaring sosial yang saya punya. Masih dalam keadaan santai saya hanya menjawab “Nyelip kali bu, coba deh cari sekali lagi yang bener. Mungkin ada di pojokan komentar,” tutur saya enteng. more…
Tubuhnya kecil, menggigil dibalik tabung kaca berukuran tak lebih besar dari peti jeruk. Puluhan kabel terpasang menjuntai di sekujur tubuhunya demi membantunya untuk dapat terus bertahan hidup. Terkadang terlihat tubuhnya menggeliat sesekali. Entah karena memang seperti itu atau itu adalah rasa sakit reaksi ketidaknyamanannya. Entahlah! more…
Tiap kali membicarakan bagian tubuh, tepatnya bagian wajah yang satu ini selalu saja membuat saya sensi. Yah, mau bagaimana lagi bagian tubuh ini selalu saja mendapat ‘perhatian’ lebih dari orang-orang sekeliling saya. Dan tak sedikit dari mereka yang mencela keberadaannya apalagi waktu saya masih kecil. Padahal, yang empunya saja tidak pernah mencibirnya sedikit pun (baca:Tuhan). more…
Desember tahun ini memang sangat menkajubkan! Indah, memanjakan! Gimana gak memanjakan, bayangkan saja banyak sekali libur panjang di akhir minggu. Wow! Mulai dari tanggal 18 Desember, Tahun Baru Islam yang jatuh pada hari jumat. Otomatis libur jadi tiga hari kan?! (maaf bagi yang harus masuk di hari sabtu). Lalu Natal, yang jatuh pada hari jumat. Tapi atas kebijakan pemerintah ada cuti bersama mulai tanggal 24. Voila.. makin menggila saja rasanya! Libur 4 hari cuy! Kalau yang ambil cuti tanggal 21-23 pasti puas banget. Gimana ngga, lha wong liburnya dari tgl 18. more…
Pagi ini aku berangkat seperti biasa, tidak ada yang berubah dari hari biasanya. Ketika menaiki angkutan umum yang selalu mengantarku ke tempat dimana aku mencari sesuap nasi, ada yang sedikit aneh. Entahlah, aku merasakannya begitu saja.
Tumben sekali pagi itu angkutan tampak padat, aku duduk disisi yang bermuatan 6 orang. Dan didepan ku terdapat dua orang bapak. Yang satu tampak berumur sekitar 39 tahun dan seorang lagi, kalau kulihat dari guratan wajahnya tampak sekali bapak itu berusia sekitar lebih dari 60th. Tapi mungkin saja penilaian ku itu salah. more…
