May
02

Gegap gempita Gedung Kesenian Jakarta membuat dinginnya hujan malam itu sedikit terhangatkan. Kerlap kerlip baju merah yang wara wiri di hampir sebagian besar GKJ menambah hangat suasana. Saat Babah Daniel masuk ke dalam ruangan dan berkelakar, saya sontak berteriak “Apeeeuuuuu….”. Tak disangka, ada satu suara lain berteriak hal yang sama di sisi balkon. Mata kami bertemu dan senyum lebar menghiasi wajah tirusnya.

Itulah kali pertama saya bertemu dengannya, pertengahan 2010 silam. Astri Apriyani namanya, atau yang kerap disapa Atre. Tidak tahu persisnya kapan kami menjadi sahabat. Tapi yang pasti, kejadian di GKJ malam itu mengawali perkenalan kami.

Etra n Atre after Sepuluh Show, GKJ 2011

Etra n Atre after Sepuluh Show, GKJ 2011

Obrolan kian hangat saat mengetahui kalau kami satu arah tujuan pulang, Pasar Minggu-Depok. Obrolan pun kami lanjutkan sampai di taksi. Singkat cerita kami bertukar telepon dan facebook malam itu.

Sampai pada akhirnya, saya mengetahui kalau­­ Atre adalah salah satu petualang ACI2010. Telepon sore itu menanyakan perihal letak kantor Detikcom, kantor di mana saya masih bernaung masa itu. Obrolan singkat di telepon membawa saya dan Atre ke pertemuan selanjutnya. Kalau kami bilang sih, ngopi-ngopi cantik! Hehe..

Selama masa petualangan, saya dan Atre selalu berbagi cerita. Baik lewat sms, FB, ataupun watsap (waktu itu kami belum saling follow twitter). Program ACI2010 telah selesai, namun pertemanan kami justru kian membara. (duh! Bahasanya euy..)

Apalagi latar belakang pekerjaan kami yang memang sama. Kuli tinta. Kekompakan kami tidak hanya di dunia maya, tapi juga saat berburu berita. Tidak jarang kami membuat janji temu di sela-sela waktu wawancara. Meskipun rubrik yang dipegangnya tidaklah sama dengan saya.

Betina, Bulan Film Nasional 2011, TIM

Betina, Bulan Film Nasional 2011, TIM

Kadang saya dengan senang hati ‘diculik’ untuk menemani liputan musik, teater, ataupun film. Berlagak jadi fotografer, partner reporter yang setia pun dilakukan. Hehe.. Dan tidak jarang pula ia saya culik ke liputan kuliner yang saya hadiri. Lagi-lagi, dia sebagai fotografer partner saya. Istilah kerennya sih, kami ini ‘Partner in Crime’. Hahaha…

Atre, Arne, Etra. Backstage GKJ, Sepuluh Show, 2011

Atre, Arne, Etra. Backstage GKJ, Sepuluh Show, 2011

Sampai suatu ketika, kami berdua ingin menonton pertunjukkan KunoKini di Rollingstone. Sore menjelang sebelum pertunjukkan, kami mendapati senja cantik diujung jalan. Teriak histeris kami lakukan. “Huaaaa… senjanya kereeeeennnnn!” lagi-lagi derai tawa terburai seketika.

“Jadi kamu suka senja?” ujarnya kala itu.

“Bangeeettt!” timpal saya menanggapi. “Huaaa.. kita samaaa!” jeritnya.

Senja seperti ‘benang merah’ untuk kami berdua. Kemana saja Atre bepergian, ia tak pernah lupa mengirimkan senja untuk saya. Begitupula sebaliknya, kemana pun saya pergi ketika saya mendapati senja cantik di luar sana tak pernah saya lupa untuk berkirim dengannya. Bisa dibilang, senja jadi oleh-oleh paling berharga saat bepergian. Hehehe

Dan purnama adalah hal lainnya yang kami bagi sambil menyesap kopi hangat dan seporsi matcha toast favorit kami.

Hehe, aneh memang! Kalau banyak orang bilang “gw deket banget sama dia karena kita udah kenal lama,” itu gak berlaku antara hubungan saya dengan Atre. Kami saling mengenal, berbagi cerita suka, berbagi tawa ceria, serta berbagi air mata begitu saja.

Kedekatan kami bukan karena waktu, tapi lebih karena kami melengkapi satu sama lain. Meskipun saya tidak bisa pungkiri, kesibukan kami membatasi waktu temu yang belum tentu satu bulan sekali. Tapi saya yakin, kami saling mendoakan satu sama lain. Atre dengan tempat barunya, dan saya dengan kesibukan baru yang jauh berbeda dari biasanya. Dan senja, memang jadi pengikat pada akhirnya. Ya, karena kami Sahabat Senja.

O ya, satu hal lagi. Ternyata Atre itu sahabat Nelli masa kuliah. Klop deh! Jadilah kami ini tri mbak getir! Ahahaha…. Atre, Etra, Arne (itu julukan kami).

TriMbakGetir (Arne, Etra, Atre), #DM22

TriMbakGetir (Arne, Etra, Atre), #DM22

Apr
29

'say cheese' before watching movie :D

'say cheese' before watching movie :D

Hai.. Perkenalkan, saya Eka (kanan). Saya (masih) perempuan yang menghobi baca, salah satunya baca blog milik orang lain. Yang bikin saya mampir ke blog salah seorang rekan saya yang ternyata sedang mengadakan sayembara. (bah, macam cari jodoh saja! Haha) Saya seorang blogger drafter, menulis blog tidak pernah sampai di publish, hanya sampai kolom draft. *semoga yang satu ini cepat bisa diobati*

Saya memiliki seorang sahabat perempuan, Arnellis namanya. Kami bersahabat sekitar.. hmm.. hampir 15 tahun lamanya. Jangan pernah bayangkan persahabatan macam cerita-cerita di novel ataupun film yang memiliki puluhan kesamaan yang menjadikan mereka bersama dalam kurun waktu yang lama. (yaa, meskipun kita temenan udah lama banget sih)

Bersiap 'ngebolang' ke museum-museum, 2009

Bersiap 'ngebolang' ke museum-museum, 2009

Bisa dibilang saya dan Nelli (panggilan akrab nya) tidak ada kesamaan sejak kali pertama jumpa. Bingung? Saya pun demikian. Pertemanan kami tercipta justru karena bukan banyaknya persamaan, melainkan tak terhitungnya perbedaan.

Kami bertengkar, kami berargumen, saling mencela, saling tidak mengerti jalan pikiran masing-masing, tapi kami tidak memilih untuk pergi dan mencari pertemanan lain. Kami selalu kembali kapada satu titik yang sama.

Perkenalan saya dengan Nelli dimulai sejak duduk di bangku SMP. Rambut kriwilnya yang notabene sama dengan saya memang menjadi pemicu awal obrolan kami. Kelas Bahasa adalah kelas yang membuat obrolan saya dengannya mengalir diawal. Dan mading adalah oase bagi kami yang memang haus kata-kata.

Nelli menyukai sastra sejak SMP (itu sejauh yang saya ingat hingga kini) dan saya menyukai seni khususnya paduan suara. Entah darimana titik temu itu bermula sehingga kami bisa mengenal satu sama lain.

Seiring waktu berjalan, persahabatan kami kian erat. Meskipun begitu, tidak banyak orang yang tahu kalau ternyata kami berdua sangat dekat satu sama lain.

Nelli adalah sahabat saya yang bisa menegur saya ataupun marah terhadap saya ketika saya memilih hal yang salah. Dia tidak akan protes apapun pilihan saya tapi dia akan memberikan gambaran seperti apa jika saya memilih pilihan tersebut.

Dan saya bukan orang yang segan untuk marah dan protes dengan keputusannya. Meskipun begitu, kami tidak pernah menyimpannya lama-lama dalam hati.

Tidak sedikit air mata yang kami lalui bersama. Jatuh bangunnya kisah percintaan, karier, keluarga, semuanya pernah kami bagi. Travelling adalah kegiatan yang selalu saya dan Nelli jadwalkan sesudah lebaran bersama dengan teman karib lainnya (meski kini sudah jarang dilakukan).

'Ngilang' di Tidung, 2008

'Ngilang' di Tidung, 2008

Kami sama-sama lahir di tanggal 4 namun berbeda bulan. Nelli lahir 4 bulan lebih cepat dari saya. Buat kami, mungkin ini satu-satunya hal yang sama diantara kami berdua. Meskipun dari segi usia dia lebih tua, tapi ternyata urusan pemikiran kadang saya jadi seperti kakak buatnya. *sok tua sih kadang-kadang, hehe*

Bike For Fun, hobi saya dan Nelli :D

Bike For Fun, hobi saya dan Nelli :D

Hingga saat ini tidak sedikit teman-teman kami yang bertanya “kok bisa sih kalian deket” aneh sih memang. Tapi ya kami justru bilang, “karena kita beda!” kami yakin sekali dengan jawaban itu. Hehehe.. Nelli yang ambisius dan saya yang lebih tenang menghadapi dia. Dia tipe orang yang panik dengan hal-hal baru dan saya yang lebih sering menenangkan dia dan memberikan pandangan yang berbeda.

Monster Gigi, #DM 2011

Monster Gigi, #DM 2011

Belakangan, saya mengetahui kalau ketertarikan saya dengannya secara emosional justru makin terlihat di belakang hari. Keinginan saya membuat taman bacaan bak gayung bersambut olehnya. Ketertarikan kami dengan dunia anak-anak ternyata memang jadi benang merah yang ampuh melandasi persahabatan ini.

Kegiatan #DongengMinggu Saya dan Nelli, 2012

Kegiatan #DongengMinggu Saya dan Nelli, 2012

Ya, itulah kami. Si duo keriting yang sudah gak keliatan lagi keritingnya. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Kami jarang bertemu, tapi kami berkomunikasi dengan cara kami sendiri. Buat saya itu lebih dari cukup. Dan persahabatn sebenernaya bukan dihitung berapa lamanya pertemanan tapi seberapa jauh mengerti diri masing-masing. Dan kami memang memenuhi keduanya. Tidak hanya waktu yang lama tapi kami juga saling mengisi. J

Apr
11

Janji temu sore ini membawa saya kepada sesosok pria yang sejak dulu saya kenal melalui televisi, dan perkumpulan KHI atau Komunitas Historia Indonesia. Saya tidak pernah berjumpa dengan beliau sebelumnya. Rasa kagum saya hanya sampai pada layar kaca saja.

Tapi, kemarin sore semua cerita berubah. Sore kemarin saya beruntung bisa bertemu denganbeliau. Asep Kambali, seorang sejarahwan Indonesia yang sudah dikenal publik sejak lama. Kiprahnya di dunia sejarah dan budaya Indonesia diawali karena kecintaannya akan nilai budaya serta sosial bangsa Indonesia yang mulai pudar seiring berkembangnya zaman.

Itulah sebabnya ia membentuk organisasi KHI 12 tahun silam, meskipun baru diresmikan 3 tahun setelahnya. Oya kembali ke cerita sore kemarin.

73cdf9d06136fe2571d4c32b5a6d25dc_kangasepkambali

Bertempat di markas besar KHI di bilangan Benhil, Jakarta Selatan, Kang Asep, panggilan akrabnya, tengah duduk asyik menatap layar monitor 14” nya. Kang Asep menyambut saya sore itu dengan cukup hangat, secangkir kopi pun jadi teman berbincang yang nikmat.

Masih sambil menekuni layar monitor, ia menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan sambil sesekali menyerutup ice coffee blended pesanannya.

Singkat cerita, saya tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan urusan sore itu. Namun, Tuhan berkehendak lain. Hujan deras tiba-tiba mengguyur Jakarta. Tanpa tedeng aling-aling ‘badai’ kecil sore itu menahan saya lebih lama.

Perbincangan pun kami teruskan, walaupun rasa resah menghantui saya karena harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusan lainnya.

Kang Asep asyik memilih foto-foto tentang sejarah Jakarta untuk diberikan ke salah satu crew Kick Andy yang juga bergabung dengan saya sore itu. Maklum, mas Irwan (nama crew tersebut) ini tengah dikejar deadline. Sambil memilih foto, kadang saya iseng mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Dan untunglah, beliau tidak segan-segan menjelaskan. Bahkan jauh lebih detail dari yang saya harapkan. Dan sore itu juga saya baru t ahu kalau ternyata hampir semua foto dan arsip yang ia dapatkan bukanlah dari arsip sejarah milik Indonesia. Melainkan didatangkan dari negeri Belanda. Wow!

Kaget dan juga rasa sedih menghinggapi saya disaat yang bersamaan. Gimana tidak? Bayangkan saja, sejarah Indonesia bisa dicari di negeri orang yang pernah menjajahnya. Agak disayangkan sebenarnya. Tapi apa mau dikata, ternyata Negara lain lebih menghargai nilai sejarah Indonesia itu sendiri. Kang Asep juga menunjukkan saya sebuah trailer film sejarah Indonesia yang selama ini luput dari cerita. Well, im impressed!

Saya termasuk tipe orang yang belajar sejarah harus melalui gambar dan cerita. Sehingga saya bisa mengimajinasikannya dan membayangkan diri saya ada pada era itu. Dan kang Asep berhasil membawa saya ke era jauh sebelum merdeka. That’s not easy but it happened!

Dan ditengah cerita tentang sejarah, saya bersyukur sekali hujan datang sore itu. Memberikan saya waktu untuk mendengarkan cerita tentang Indonesia khususnya Jakarta meskipun itu hanya sebagian kecil saja. Dan semoga saya masih ada kesempatan untuk menggali sejarah lebih dalam lagi bersama beliau.

Well, hujan sudah reda saat nya saya harus kembali. Nice to know You Mr. Asep Kambali, I will wait for your next workshop to be a good guide of history. J

Bengawan Solo, Benhil, Jakarta Selatan
3 April 2012

Mar
14

Kegiatan pagi yang menjemukan. Langit menggelayut mendung di ujung selatan, rintik gerimis menyapu wajah ku yang masih terasa ngantuk diubun-ubun. Ternyata aroma kopi pagi dan legitnya pisang goreng tak juga menghapus jejak kantuk sisa semalam.

Tiba di stasiun UI, deretan penumpang mengular antri membeli tiket. Hmm.. tapi tunggu, antrian ini sepertinya tidak biasa. Lepas dari loket tiket, pemandangan stasiun UI yang biasanya tidak terlalu ramai kini seperti pasar tumpah.

Riuh rendah suara sekelompok orang mendominasi. Tukang jualan lalu lalang menjajakan barang dagangannya. SI penjaga toko roti di samping loket telihat kewalahan melayani penumpang yang tampak lapar dan garang.

Keluhan pun bukan jadi hal yang baru. Dan tiba-tiba saja penumpang satu sama lain jadi ‘akrab’ hanya karena ‘ngegosip’ soal kondisi perkeretaapian Indonesia dan buruknya system yang ada. Meskipun tidak sedikit juga yang tenggelam dalam dunia maya di layar sentuhnya.

Kereta tiba tepat pukul 08.25. Meskipun termasuk KRL Commuter Line namun padatnya mengalahkan kereta ekonomi menuju Jakarta Kota yang sudah berangkat 5 menit sebelumnya. Tak ada pilihan. Akupun loncat dan memasuki kereta yang tampak seperti kaleng sarden berukuran persegi panjang.

Sesak? Sudah pasti. Tidak nyaman? Ah, sejak kapan naik kereta berdiri dan penuh itu bisa dibilang nyaman. Posisi berdiri yang tidak tegak sempurna membuatku makin tak nyaman. Tak terhitung berapa kali perut dan dada ku terkena siku orang-orang disebelahku. Mau teriak atau marah? Silakan saja kalau ingin diamuk penumpang lainnya. Dan aku harus pasrah dan ikhlas di dalam kereta.

Ini benar-benar potret kehidupan Jakarta sebenarnya. Kalau banyak orang berbondong-bondong datang ke Jakarta karena gemerlapnya Ibu Kota, aku malah merindukan suasana kedamaian Tulungrejo yang kutinggalkan sebulan lalu. Ya, aku merindu!

Sampai di stasiun Karet, peluh sudah bercucuran. AC kereta sepertinya tidak membawa banyak manfaat. Mencari kursi adalah hal pertama yang aku lakukan saat keluar. Lelah? Sangat! Lemas? Bagaimana tidak, kalau selama di dalam kereta peluh terus saja bercucuran seperti keran air yang bocor.

Sambil menunggu, kusempatkan membuka telepon selularku. Nama pertama yang terlintas di benakku adalah Tresable Hutasoit. Lho? Kenapa Mba Abel ya?

Iseng kutelusuri ‘jejaknya’ di tempat ia biasa mencurahkan isi hati. Ada kerinduan menelusup di ruang hatiku. Rindu yang membuncah dan mendorong bulir air mataku mengalir tak terbendung. Cengeng betul pikirku.

Entah mengapa, tapi aku memang merindukannya. Seperti merindukan seorang kakak yang lama sekali tak pernah bertemu. Dan tanpa ragu, ku ketikkan pesan singkat di BBM nya. Dan Alhamdulillah dirinya baik-baik saja. Terima kasih Tuhan J

Stasiun Karet 14 Maret 2012

Mar
13

Hollaaaa…long time not write something here. But now, I try to consistent with my blog.. *kisskisscoffecorner* ^^

Well, seperti biasa. Akhir pekan, bukan berarti saya harus berdiam di rumah saja. Kali ini saya memang gak nge-bolang seperti biasanya. Saya coba untuk menelusuri setiap kegiatan menarik yang Jakarta tawarkan. Yak, saya berdamai dengan Jakarta pada akhirnya. *hohoho

Ini bermula dari seorang kawan yang mengajak saya untuk ikut panahan. “Hmm.. panahan?! Memang dibuka untuk umum ya?” Kata-kata itu yang terlintas di benak saya awalnya. Karena saya memang suka sekali tantangan, kontan ajakan nya langsung saya iyakan.

Berbekal peta seadanya (dora is back, hihi), saya bersama Wuri kawan saya datang ke stadion Panahan, gelora Bung Karno. Sayangnya, kami berdua buta akan GBK! Dan kami pun muter-muter GBK dengan suksesnya!

*Koreksian buat GBK, tidak adanya penunjuk arah yang memudahkan pengunjung. Dan tidak adanya informasi di setiap lapangan, olahraga apa yang ada di sana. Ini membingungkan!*

Rintik hujan yang mengiringi saya sejak pagi kini mulai deras. Namun, rasa penasaran jauh lebih kuat. Saya tak mau kalah dengan hujan yang sedang iseng datang dan pergi tak peduli cerahnya langit pagi itu.

Sampai di lapangan panahan, sudah terlihat 3 pria duduk di sana yang belakangan saya tahu dua diantaranya adalah pelatihnya. Coach Danang dan asistennya Mas Robi. Sedangkan pria satunya adalah Taufan, peserta lain pagi itu.

Hujan tak kunjung reda, Coach Danang menawarkan untuk penjadwalan ulang. Namun kami menolaknya. Terlebih lagi saya. Saya memilih bersabar menunggu sambil berbincang-bincang dengan rekan-rekan lainnya. Luki, Anita, Becca, dan Eva menyusul kemudian.

Pukul 12.25, hujan reda langit kembali cerah. Peralatan memanah sudah di tata di tepi lapangan. Busur, anak panah, standing busur (yang ini saya lupa namanya).

Tanpa perlu menunggu lagi, Coach Danang mulai menjelaskan mengenai Panahan. Perkenalan pun dimulai, alasan mengapa memilih panahan sebagai kegiatan akhir pekan jadi pembukanya.

Busur yang digunakan siang itu, bukanlah busur yang digunakan atlet pro. Bahan dasarnya kayu dan juga fiber yang cukup lentur melengkung. Tak heran jika busur ini cukup ringan sehingga tidak menyulitkan pemula seperti saya. String alias benang busur cukup tebal dan kuat. Dan saya tidak boleh meregangnya tanpa anak panah, karena bisa membuat busur patah dan melukai diri sendiri.

Di bagian tengah anak panah terdapat alat yang bisa mengatur jarak bidik. Nah, biasanya ini digunakan untuk atlet profesional sedangkan saya dan teman-teman tidak perlu menggunakannya untuk sementara. DI bagian tengah string terdapat tanda dimana saya harus menaruh anak panah agar tepat di tengah.

Setelah penjelasan mengenai busur selesai, kini beralih ke anak panah. Anak panah ini memiliki panjang kurang ebih 50cm. Dibagian ujung nya berbalut besi yang cukup tajam. Sedangkan dibagian pangkalnya terdapat bulu yang berfungsi sebagai penyeimbang saat anak panah bertolak menuju sasaran.

Ternyata saat menaruh anak panah tidak bisa sembarangan juga lho. Ada aturan-aturannya juga. Seperti bagian mana yang menghadap ke pemanah, dan bagian mana yang harus berada di sisi sebaliknya.

Tap finger, digunakan untuk melindungi jari agar tidak terluka karena menarik string. Pelindung lain berbahan plastic, namanya lupa. Ini digunakan untuk melindungi tangan bagian dalam agar tidak tersabet string.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan saat memanah. Posisi lengan yang memegang busur tidak boleh terbalik, pundak yang memegang busur tidak boleh terangkat kalau tidak bisa cidera punggung. Dan siku yang menarik anak panah harus diangkat ke atas, bukan diayun menyamping agar tidak terjadi cidera. *Wah.. ternyata ribet juga yah!

Hmm..rasa deg-degan memburu. Tapi nafas harus diatur agar tenang sehingga anak panah tidak bergetar saat dilepas. “Posisi siap…tarik sampai tulang pipi, dan hempaskan!” perintah Coach Danang.

Oya, satu lagi. Anak panah harus ditarik sejajar tulang pipi. Kenapa? Karena hal ini membuat anak panah lurus sejajar sehingga melesatnya tidak bengkok-bengkok. “Kalau tidak kuat ditarik sampai tulang pipi, boleh sampai hidung” ujar Coach Danang menambahkan.

Daaaaaannn, anak panahpun melesat menuju sasaran! Yeay, tembakan pertamaku mengenai area kuning. Disusul panah kedua yang melesat tepat disisi anak panah Luki. Well, not bad for beginner! Hehe..

Tapi saying, pada saat terakhir mungkin karena tangan sudah mulai lelah juga posisi tangan yang seharusnya dalam posisi siap berubah. Tak terelakkan lagi, sabetan string busur pun membekas di lengan. Bengkak kebiruan! Tapi ini gak bikin saya kapok dong! Hehe…

Jujur, kegiatan panahan ini nagih. Rasa penasaran yang tinggi membuat saya terus mencoba agar dapat tepat mengenai sasaran! Tapi tidak sedikit juga anak panah yang melesat jauh melewati sasaran. Biasanya ini pengaruh angin, arah bidikan dan keberuntungan juga sih. Hehehe…

Tanpa terasa, dua jam sudah berlalu. Acara panahan siang itupun berakhir sudah. O ya, ada cerita menarik disaat terakhir memanah. Anak panah saya hilang! Mas Roby sampai turun tangan mencarinya. Seluruh lapangan sudah dicari tapi tetap tidak ketemu.

“Wah, jangan-jangan anak panah nya nyasar ke lapangan hati, Lan!” ledek teman-teman yang lain. Sontak saja kita semua tertawa. *Duh, maaf ya Mas*

Yak, kegiatan panahan hari itu ditutup dengan pendinginan agar tangan tidak njarem (kalau orang Jawa bilang sih gitu,hehe).

Hmm..weekend seru dan gak sabar untuk mencoba kegiatan unik lainnya yang ada di Jakarta. Bagaimana denganmu?

Aug
09

Badan demam yang tak kunjung reda sejak subuh tadi membawa saya ke pekarangan seorang dokter malam ini. Dokter langganan keluarga yang hari ini harus rela saya usik waktu istirahatnya karena demam saya yang tak juga mau turun. Seorang wanita berusia sekitar 26 tahun menyambut saya di ambang pintu. Mempersilakan saya duduk dan mulai mencatat nama dan keperluan administratif lainnya. more…

Oct
12

Entah karena masih pengaruh pawang hujan yang terlalu kuat atau memang Tuhan tengah memberikan kami perhentian sejenak. Itu sih yang ada dalam pikiran saya. Mengapa saya katakan demikian? Yaa, sudah dua hari ini langit Jakarta begitu cerahnya. Bahkan kemarin begitu panasnya sampai-sampai saya mengira salah satu pintu neraka telah terbuka. *hehe, ini lebay*
more…

Category: ceritaku  Tags: , ,  One Comment
Sep
17

Mata tak lagi mau terpejam, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Bukan tak mau, tapi seperti ada yang mengharuskan saya terjaga malam ini. Pikiran saya lelah, batin saya lelah, tak terkecuali tubuh ini. Lelah ini berubah menjadi resah hingga menimbulkan gundah.. Ah,ada apa ini?

Mana senyum yang selalu tersungging? Kemana tawa renyah yang selalu terdengar tiap kali berkelakar ringan. Wajah ini terlalu sendu! Murung! Tak enak dipandang.

Terlihat sekali lelah yang teramat dalam di sudut mata ini. Tak perlu ditutupi dengan eye shadow warna cerah, karena ‘mendung’ ini sudah siap menumpahkan isi perutnya. Hei! Ada apa denganmu, wanita?!

Seperti ada duri kecil disudut hati yang tak bisa saya cungkil. Sakit? Itu sudah pasti. Menangis? Ah, cengeng betul saya! Dan akhirnya saya cuma mampu menahannya. Meski rasa ini perih setengah mati!!!

Patah hati? Tak sedikit yang menduga demikian. Tapi bukan itu,meski ada juga unsur ini di dalamnya. Saya tak bisa menjelaskan apa yg saya rasa. Semuanya terlalu absurd, semua ini terjadi bersamaan. Sehingga saya sendiri tak tahu,air mata ini untuk yang mana? Tawa ini untuk bagian yang mana?? Terlalu tipis bedanya!

Tapi satu hal yang pasti, kini saya tengah membenahi hati dan memperbaiki hati saya yang sesungguhnya.

Malam bulan,rangkaian indah doa coba kulantunkan. Sambil mencoba menahan sakit yang tengah menyerang hati yang sebenarnya. *menarik selimut*

Category: ceritaku  Tags:  3 Comments
Sep
16

Baiklah,ini sudah kesekian kalinya saya mengalami insomnia. Ya..ya…ya,sulit tidur akut lebih tepatnya! Browsing sana sini, ‘berkicau’ di jejaring sosial ternyata hanya mampu membunuh rasa bosan tidak lebih dari 30 menit.

Dan kini,saya terjaga!!! Dengan mata mulai membengkak dan senut-senut dikepala yang semakin menggila. *ada yang lebih buruk?*

Tapi ada hikmah dibalik insomnia ini. Akhirnya saya memiliki waktu untuk ‘menjenguk Coffee Corner saya yang sudah terbengkalai sejal beberapa bulan terakhir. *sok sibuk*

Blog walking yang saya lakukan sejak tadi ternyata menyedot perhatian saya. Ah,betapa menyenangkannya menuangkan isi pikiran di ‘dunia’ ini. Dan saya berusaha untuk lebih ’sayang dan perhatian’ dg si Coffee Corner ini.

*hooaaammm* <– ceritanya nguap

Yak,tampaknya sudah mulai ngantuk nih. *merangkai doa,menarik selimut*

Category: ceritaku  Tags:  One Comment
Mar
15

“Mil, papah Mil.. Papah..,” ujar seseorang di seberang sana terbata-bata.

“Maksudmu?” tanyaku penasaran.

“Iya Mil, papah akhirnya tahu. Barusan Mba Riska sms-in papah. Dan sekarang papah kepikiran terus,” suara nya makin terdengar lemas dan putus-putus.

“Haloo..haloo, kamu masih disitu?” desakku berusaha memastikan sambungan ini belum terputus.

“Iya Mil, iya.. aku masih ada di sini,” suaranya makin tak jelas. more…